Cara Berdoa yang Baik dan Benar - Bagaimana Doa Terkabul?

Abstrak

Pada artikel ini kami memberikan gambaran tentang bagaimana mekanisme terkabulnya doa. Ada dua jenis doa yaitu – doa untuk keuntungan duniawi dan doa untuk pertumbuhan spiritual. Dengan demikian, doa terkabul oleh aspek–aspek KeTuhanan yang berbeda. Penelitian spiritual telah menunjukkan bahwa bahkan energi negatif/hantu pun dapat membuat doa kita terkabul, untuk merugikan kita! Tingkat spiritual seseorang adalah faktor paling penting dalam memastikan apakah doa seseorang akan dikabulkan. Doa untuk perdamaian dunia, meskipun suatu pemikiran yang mulia, kemungkinan besar tidak akan terkabul karena kurangnya tingkat spiritual dari umat yang berdoa. Berkebalikan dengan itu, orang-orang yang sungguh dapat memberi efek perubahan melalui sebuah doa adalah Orang-orang Suci, tetapi Mereka sudah merasa tidak ada perlunya lagi berdoa karena Mereka telah benar-benar sejalan dengan kehendak Tuhan YME dan tidak lagi melihat kehendakNya sebagai terpisah dari kehendak mereka sendiri. Terakhir, postur (sikap) doa juga memberikan kontribusi terhadap terkabulnya doa.

1. Pendahuluan tentang cara berdoa yang baik dan benar

Ketika menghadapi situasi-situasi sulit yang tidak dapat diatasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti hilangnya barang berharga, penyakit yang tidak dapat sembuhkan, masalah besar keuangan, dll, orang berdoa kepada Tuhan atau kepada suatu aspek dari-Nya, yang juga dikenal sebagai dewa-dewi. Ini adalah doa-doa dengan pengharapan materi atau duniawi.

Para pencari spiritual/Tuhan (seeker), yang fokus utama dalam hidupnya adalah pertumbuhan spiritual, juga berdoa secara teratur kepada Tuhan tidak hanya dalam situasi sulit saja tetapi juga dalam segala situasi sehari-hari. Doa-doa tersebut bagaimanapun, adalah bukan tentang harapan duniawi tetapi tentang pertumbuhan spiritual dan juga dapat dikatakan sebagai bagian dari latihan spiritual bagi mereka.

Artikel ini menjelaskan mekanisme bagaimana kedua jenis doa tersebut terkabul.

Untuk memahami artikel ini dengan lebih baik silahkan membaca artikel kami lainnya:

Adalah penting untuk dicatat bahwa ketika terjadi masalah atau kesulitan dalam hidup, akar permasalahnya bisa berasal dari fisik, mental atau spiritual. Penelitian yang dilakukan oleh SSRF menunjukkan bahwa hingga 80% dari permasalahan dalam hidup ini memiliki akar penyebab dari alam spiritual. Takdir dan leluhur-leluhur yang telah meninggal adalah dua faktor sangat penting dalam penyebab-penyebab spiritual dari masalah-masalah dalam kehidupan.

2. Bagaimana cara doa terkabul? Apa mekanismenya?

2.1 Siapakah yang membuat doa-doa kita terkabul?

  • Diagram berikut menunjukkan siapa yang menjawab doa-doa kita sesuai dengan jenis doanya. Umumnya, jenis doa akan berbeda sesuai dengan tingkat spiritual seseorang. Misalnya, seseorang yang berada pada tingkat spiritual 30% akan lebih sering berdoa untuk hal-hal duniawi. Seseorang pada tingkat spiritual 50% akan lebih sering berdoa untuk pertumbuhan spiritual. Dengan demikian, doa dapat dikabulkan oleh berbagai energi tak kasat mata (halus) di Alam Semesta. Yang menarik dari hal ini adalah bahkan energi negatif pun dapat membuat doa-doa terkabul, baik ketika hal-hal yang merugikan diminta oleh seseorang dan/atau untuk menjebak seseorang agar berada di bawah pengaruh mereka dengan mengabulkan keinginan mereka sebagai umpan. Misalnya, seperti yang ditunjukkan dalam diagram di bawah, di mana seseorang yang berdoa untuk kematian orang lain akan dibantu oleh makhluk halus negatif dari Neraka wilayah ke-4. Doa untuk keuntungan duniawi umumnya dikabulkan oleh dewa-dewi atau energi-energi positif dengan tingkat yang lebih rendah. Doa untuk pertumbuhan spiritual dikabulkan oleh dewa-dewi atau energi-energi positif dengan tingkat yang lebih tinggi.
Cara kita berdoa, apakah baik dan benar, menentukan siapa yang membuat doa terkabul
  • Ketika kita berdoa dengan pengharapan duniawi kepada Tuhan atau dewa-dewi tertentu, seperti meminta pekerjaan atau mengatasi penyakit, seperti yang dinyatakan sebelumnya, doa tersebut akan dijawab oleh dewa-dewi atau energi positif dengan tingkat yang lebih rendah. Mari kita ambil contoh seseorang yang telah berdoa secara intensif untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Jika tersirat dalam takdir orang tersebut bahwa ia harus hidup tanpa pekerjaan selama lima tahun, maka energi positif atau dewa-dewi dengan tingkat lebih rendah dapat membuat doa itu terkabul dengan mendorong periode pengangguran lima tahunnya ke suatu masa nanti dalam kehidupan orang tersebut. Maka dari itu, orang itu masih harus melalui fase menjadi pengangguran. (Hal ini karena terlepas dari apa pun, seseorang harus menjalani takdirnya, yang mana hanya bisa diatasi dengan orang tersebut melakukan latihan spiritual)
  • Kadang-kadang dewa-dewi dengan tingkatan yang lebih tinggi juga membantu situasi duniawi dari pencari Tuhan YME, jika situasi tersebut menyebabkan hambatan dalam pertumbuhan spiritualnya.

2.2 Bagaimana cara doa-doa terkabul?

  • Ketika seseorang berdoa dengan baik dan benar, mereka mengingat Tuhan secara intens (kuat) dan menjalin dialog intim dengan-Nya tentang masalah-masalah yang sangat dekat dengan hati mereka. Menurut hukum tindakan balik, Tuhan juga akan merasa lebih dekat dengan mereka.
  • Doa memiliki kemampuan untuk mengaktifkan prinsip-prinsip dewa-dewi (aspek Tuhan YME) di Alam Semesta. Frekuensi paling halus dihasilkan ketika seseorang menghaturkan rasa syukur bersamaan dengan doa. Frekuensi-frekuensi tersebut memiliki kemampuan untuk tidak hanya mengaktifkan, tetapi juga menyentuh dewa-dewi tersebut; maka prinsip ke-Tuhan-an diaktifkan lebih cepat. Aktivasi prinsip dewa-dewi (aspek Tuhan) ini mengakibatkan terkabulnya doa-doa. Para dewa-dewi membuat doa terkabul dengan kekuatan Niatan (resolve) mereka. Lihat artikel tentang siapakah dewa-dewi itu?

    Contoh dari doa-doa yang diikuti oleh rasa syukur:

    • Tuhan, tolong izinkan saya mendapatkan pekerjaan ini, saya benar-benar membutuhkannya. Tuhan, terimalah syukur saya ini karena telah memberikan saya pemikiran untuk berdoa.
    • Tuhan, izinkanlah saya melakukan semua kegiatan di hari ini sebagai praktik spiritual. Tuhan, saya mengucap syukur di Kaki Suci-Mu karena telah memberi saya pemikiran, dan telah melaksanakan doa ini melalui saya.
  • Doa memikat frekuensi halus (tak kasat mata) ke-Ilahi-an ke arah orang tersebut dan sebagai hasilnya, Raja-Tama disekitar orang itu pun dihancurkan. Dengan demikian, lingkungan disekitar orang tersebut menjadi relatif lebih sāttvik. Dikarenakan komponen dasar halus/non-fisik Sattva di lingkungan sekitarnya meningkat, pemikiran-pemikiran orang-orang di sekitarnya menjadi berkurang dan mereka juga menjadi sāttvik. Hal ini karena Pikiran dipengaruhi oleh lingkungan eksternal (luar).
  • SheathsUntuk informasi lebih lanjut tentang tubuh vital dan mental, lihat ke ‘Terdiri dari apakah diri manusia?
  • Doa meningkatkan partikel-partikel dari komponen dasar non-fisik Sattva dalam selubung tubuh vital. Ketika kita menghaturkan rasa syukur, partikel-partikel dari komponen dasar halus Sattva dalam selubung tubuh mental meningkat. Dengan demikian, doa yang dilengkapi dengan rasa syukur, menghasilkan purifikasi spiritual dari selubung tubuh vital dan mental.  Akibat dari purifikasi spiritual dari selubung tubuh vital dan selubung tubuh mental, impresi – impresi dalam kedua selubung tersebut mulai dihancurkan. Karena berkurangnya impresi – impresi tersebut, pemikiran-pemikiran tentang diri sendiri menjadi minim dan ketertarikan terhadap hal-hal duniawi (Māyā) pun menurun. Hal ini menyebabkan meningkatnya keinginan untuk menuju Tuhan dan kerinduan untuk bersatu dengan-Nya. Oleh karena kedua selubung tersebut juga dipurifikasikan, maka energi negatif tidak bisa masuk ke dalam tubuh. Lihat artikel tentang Bagaimana pengucapan dan repetisi (chanting/dzikir) Nama Tuhan YME membantu untuk memurnikan impresi-impresi dalam pikiran kita.
  • Ketika kita berdoa, kita menerima ketidakberdayaan untuk memecahkan permasalahan kita sendiri dan, karena melihat diri secara lebih rendah hati, ego kita pun berkurang. Dengan penurunan ego, ada kenaikan sementara dalam tingkat kesadaran spiritual. Hal ini menyebabkan peningkatan sementara komponen dasar halus Sattva. Selanjutnya, ketika kita menghaturkan rasa syukur, itu membangkitkan kerendahan hati dalam diri kita yang memiliki efek positif lebih besar pada tingkat kesadaran spiritual kita. Oleh karenanya, persatuan/persekutuan kita dengan Tuhan pun meningkat. Kenaikan komponen dasar halus Sattva itu sendiri juga meningkatkan kapasitas kita untuk mengatasi atau menanggung permasalahan yang sedang dihadapi.

3. Kapankah doa-doa kita bisa terkabul?

Dalam kehidupan kita, 65% dari peristiwa yang terjadi adalah sesuai takdir. Peristiwa-peristiwa yang ditakdirkan adalah peristiwa-peristiwa diluar kendali/kontrol kita. Silakan lihat artikel tentang Takdir dan tindakan bebas

Peristiwa yang ditakdirkan, entah yang baik maupun yang buruk, pasti akan terjadi dalam hidup kita. Peristiwa – peristiwa buruk yang ditakdirkan mungkin dapat berupa penyakit atau sebuah pernikahan yang kandas. Orang biasanya berdoa kepada Tuhan terutama saat kejadian buruk terjadi dalam hidup mereka. Mereka berdoa kepada Tuhan untuk meringankan peristiwa buruk tersebut. Namun, kita menemukan bahwa doa kita tidak selalu dikabulkan. Lihat artikel: Takdir sebagai akar masalah spiritual dari kesulitan dalam hidup

Jadi apa hukumnya? Kapan doa dapat dikabulkan untuk mengatasi peristiwa buruk yang ditakdirkan sehingga dengan berdoa, peristiwa itu sendiri tidak terjadi atau setidaknya kita terlindungi dari efek buruknya?

Aturan praktisnya adalah:

  • Jika doa lebih kuat dari intensitas peristiwa yang ditakdirkan, maka doa tersebut yang akan terkabul.
  • Jika intensitas takdir yang lebih kuat dari doa, maka doa tersebut akan terkabul sebagian atau tidak terkabul sama sekali.

4. Apa yang menentukan efektivitas terkabulnya doa seseorang?

Faktor-faktor berikut menambah efektivitas terkabulnya doa:

  • Tingkatan Kesadaran Spiritual dari orang yang berdoa – semakin tinggi tingkat spiritual, semakin efektif pula terkabulnya doa mereka.
  • Kualitas doa – apakah doa tersebut bersifat mekanikal, tulus, atau dengan emosi spiritual (bhāv) dari seorang pencari spiritual/ Tuhan.
  • Untuk siapakah orang tersebut berdoa (yaitu, apakah untuk diri sendiri atau orang lain) – Ketika kita berdoa untuk orang lain, kekuatan spiritual yang dibutuhkan lebih banyak. Semakin besar jumlah orang dalam masyarakat yang dikehendaki untuk terpengaruh oleh suatu peristiwa, maka semakin besar kekuatan spiritual diperlukan untuk mempengaruhi hasil yang diinginkan. Hanya orang- orang Suci (Saints) dengan tingkatan pencapaian lebih tinggi dapat mempengaruhi perubahan di masyarakat.
  • Ego yang lebih rendah memberikan kontribusi terhadap efektivitas doa yang terkabul.
  • Postur berdoa (mudrā) apakah yang digunakan oleh seseorang? Ini menjadi faktor utama bagi sebagian besar orang, berhubung faktor-faktor di atas lebih sedikit berpengaruh pada kebanyakan orang dengan kesadaran spiritual rata-rata.

4.1 Tingkat kesadaran spiritual dan terkabulnya doa seseorang

Tingkat kesadaran spiritual dari orang yang berdoa adalah salah satu kriteria utama dalam menentukan terkabulnya doa.

  • Bagi para pencari spiritual/ Tuhan di atas tingkat kesadaran spiritual 60%, doa tidak diperlukan. Mereka bertindak atas emosi/ perasaan spiritual bahwa ‘Biarkanlah semuanya terjadi sesuai kehendak Tuhan.’ Mereka benar-benar mengalami bahwa segala sesuatu dalam hidup mereka terjadi dan disediakan oleh karunia Tuhan. Pikiran mereka terus-menerus dalam keadaan bersyukur kepada Tuhan. Setelah keadaan ini tercapai, maka doa tidak lagi diperlukan.
  • Doa dari orang yang berada di bawah tingkat kesadaran spiritual 30% tidak memiliki pengaruh dan sebaik-baiknya hanya dapat memberi mereka manfaat psikologis saja. Hal ini karena selubung/ selimut dari ego yang terlalu besar bagi doa-doa mereka untuk mencapai prinsip ke-Tuhan-an.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa doa paling efektif bekerja untuk orang-orang yang berada di antara tingkat kesadaran spiritual 30-60%.

Lihat artikel ‘Rincian populasi dunia menurut tingkat spiritual’.

Dari waktu ke waktu, kita kadang mendapat suatu undangan dari beberapa orang untuk berkumpul dan berdoa bagi perdamaian dunia, atau untuk tujuan mulia seperti pengurangan efek pemanasan global. Dari perspektif hasil nyatanya, hal ini sebaik-baiknya merupakan upaya psikologis saja. Ini terjadi karena peristiwa-peristiwa besar dunia memiliki dasar/ akar spiritual yang kuat dan hanya bisa diatasi oleh upaya-upaya dari insan spiritual yang sudah sangat berkembang seperti Orang-orang Suci dengan tingkatan yang lebih tinggi. Bahkan jika jutaan orang (dari tingkat spiritual biasa/ rata-rata) berkumpul dan membuat doa yang sama untuk terjadinya peristiwa besar dunia, itu akan serupa dengan jutaan semut-semut yang mencoba untuk mengangkat batu besar.

Catatan: Beberapa orang mungkin berpikir bahwa jika Orang Suci dapat mempengaruhi perubahan global, maka mengapa mereka tidak mengatur perdamaian dunia atau mengurangi dampak pemanasan global? Paradoksnya adalah bahwa sementara Orang Suci memiliki kekuatan spiritual untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa dunia, mereka memiliki emosi spiritual bahwa hanya Tuhan lah yang tahu apa yang terbaik. Juga, karena mereka berada dalam ‘keadaan sebagai pengamat (sākshibhāv)’, menurut sifat itu mereka tidak akan ikut campur dalam rencana Tuhan dan sepenuhnya selaras dengan rencanaNya. Mereka memiliki kesadaran sempurna atas rencana Tuhan, bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan takdir individual dan kolektif umat manusia. (Peristiwa yang ditakdirkan adalah peristiwa-peristiwa dalam hidup kita yang terjadi karena tindakan masa lalu kita, baik dalam kelahiran ini atau kelahiran kita sebelumnya.)

5. Bagaimana posisi dan cara berdoa yang baik dan benar?

Melalui penelitian spiritual, SSRF telah mengidentifikasi dan merekomendasikan posisi tangan berdoa (mudrā) dan postur tubuh berikut ini, yang merupakan cara berdoa paling kondusif untuk memperoleh energi Tuhan dengan maksimal.

Gambar dimensi halus (tak kasat mata) berikut menunjukkan dua tahap dalam postur tangan berdoa (mudrā) ini dan apa yang sebenarnya terjadi pada tingkat spiritual ketika seseorang menggunakan cara berdoa ini dengan benar.

5.1 Cara berdoa yang benar – Postur tangan berdoa (mudrā) tahap awal

Cara berdoa yang baik dan benar - Postur Tangan Berdoa - Tahap 1

Tahap pertama dalam postur tangan berdoa (mudrā) ini adalah mengangkat tangan seseorang dalam doa dengan ibu jari menyentuh wilayah pertengahan alis atau chakra dahi (Ādnyā-chakra) (pusat energi spiritual di wilayah pertengahan kedua alis) dengan lembut. Adalah yang terbaik untuk mulai berdoa setelah kita berada dalam posisi ini.

Ketika kita menundukkan kepala kita dalam posisi doa ini, itu membangkitkan emosi spiritual berserah diri dalam pribadi kita. Hal ini, juga akan mengaktifkan frekuensi ke-Tuhan-an yang halus/tak kasat mata dari Alam Semesta. Frekuensi ke-Tuhan-an ini masuk melalui ujung-ujung jari kita, yang akan bertindak sebagai reseptor (penerima). Frekuensi ke-Tuhan-an ini kemudian disebarkan ke dalam tubuh kita melalui ibu jari ke chakra dahi. Hasilnya adalah peningkatan energi spiritual positif dalam diri kita, yang membuat kita merasa lebih ringan atau memberikan perasaan lega dari gejala-gejala tekanan fisik atau mental.

5.2 Cara berdoa yang benar – postur tangan berdoa (mudrā) tahap akhir

Cara berdoa yang baik dan benar - Postur Tangan Berdoa - Tahap 2

Setelah seseorang selesai berdoa, orang tersebut seharusnya mengambil sikap sesuai postur tangan berdoa (mudrā) tahap kedua seperti ditunjukkan dalam gambar di atas. Ini berarti bahwa sebagai pengganti seseorang menurunkan tangannya dalam doa dengan segera, tangan ditempatkan di wilayah pertengahan dada sedemikian rupa sehingga pergelangan tangan menyentuh dada. Hal ini memudahkan proses untuk lebih menyerap secara keseluruhan Kesadaran Tuhan dari prinsip ke-Tuhan-an. Jadi pada awalnya, Kesadaran Tuhan dari prinsip dewata yang telah memasuki ujung-ujung jari sekarang juga akan dipancarkan ke daerah dada, tempat dari chakra dada/jantung (Anāhat-chakra). Sama seperti chakra Ādnyā, chakra Anāhat juga menyerap frekuensi-frekuensi suci (sattvik). Dengan menyentuh pergelangan tangan ke dada, Anāhat-chakra diaktifkan dan membantu dalam menyerap lebih banyak frekuensi–frekuensi sattvik. Ketika aktif, Anāhat-chakra membangkitkan emosi spiritual dan pengabdian dari seorang pencari Tuhan.

Dalam tahap kedua dari posisi tangan berdoa (mudrā) ini, seseorang seharusnya menjadi mawas diri (introspektif) dan merenungkan pengalamannya ketika berada dalam hadirat Tuhan.

5.2.1 Posisi berdoa yang benar dengan kepala menunduk

Cara benar berdoa dengan posisi kepala yang baik
Cara berdoa dengan posisi jari yang benar

Poin-poin yang perlu diperhatikan dalam cara berdoa yang baik dan benar:

  • Tubuh harus menunduk dan tidak tegak.
  • Jari-jari harus sejajar dengan dahi. Jari-jari harus tidak kaku, namun rileks.
  • Jari-jari harus menyatu – tidak terbuka pada celah antar jari.
  • Jempol harus menyentuh wilayah chakra dahi dengan lembut.
  • Telapak tangan ditempelkan secara lembut dengan sedikit ruang diantara keduanya. Bila seeker sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual diatas 50%, telapak tidak harus menyisakan rongga diantara keduanya.

5.3 Cara berdoa yang baik – penuh emosi spiritual

Gambar dimensi spiritual (tak kasat mata) berikut menunjukkan apa yang terjadi ketika seseorang pada tingkat spiritual 50% berdoa dengan emosi spiritual. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah bahwa orang-orang di sekitarnya juga memperoleh manfaat dari Kesadaran Tuhan yang diakses oleh orang tersebut. (Lihat bagian gambar yang menunjukkan 5% dari frekuensi Kesadaran Tuhan (Chaitanya) dipancarkan ke luar tubuh) Ini sebabnya mengapa cukup sering diamati bahwa ketika seorang pencari Tuhan berdoa dengan emosi spiritual, emosi spiritual pada orang lain di sekitarnya juga ikut terbangkitkan.

Cara berdoa dengan emosi spiritual yang baik

5.4 Apakah setiap kali berdoa kita harus melakukan cara berdoa yang baik dan benar tersebut?

Jika seseorang berada pada tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi (di atas 50%), frekuensi ke-Tuhan-an halus (tak kasat mata) mulai langsung diterima melalui Brahmārandhra (bukaan atas dalam sistem tenaga dalam spiritual, berlokasi di atas mahkota kepala, pada tubuh halus manusia) itu sendiri. Brahmārandhra itu adalah bukaan halus (tak kasat mata) di atas chakra ubun-ubun (Sahasrār-chakra) (berdasarkan ilmu spiritual Kunḍalinīyoga) yang memiliki akses ke Pikiran dan Kecerdasan Semesta Alam. Bukaan halus ini tertutup pada orang dengan tingkat spiritual yang lebih rendah. Faktor utama yang membantu pembukaan Brahmārandhra adalah tingkat ego yang lebih rendah. Ketika kita berada dalam tahap pertumbuhan spiritual ini, kebutuhan untuk postur tangan berdoa (mudrā) seperti yang dijelaskan di atas terus semakin berkurang.

Namun, jika seseorang dengan tingkat kesadaran spiritual di antara 50% sampai 80% melengkapi doanya dengan postur tangan berdoa (mudrā) yang disarankan, maka dia mendapat manfaat dari tambahan Kesadaran Tuhan. Manfaat tambahan ini 30% lebih banyak untuk seseorang pada tingkat kesadaran spiritual 50% dan manfaat itu menjadi semakin berkurang secara proporsional dengan meningkatnya tingkat kesadaran spiritual.

Karena kebanyakan orang tidak memiliki tingkat kesadaran spiritual yang tinggi, mereka tidak dapat menerima Frekuensi ke-Tuhan-an melalui Brahmārandhra. Namun, kebanyakan orang (tingkat kesadaran spiritual 30-60%) tetap sanggup menerima frekuensi-frekuensi halus melalui ujung jari mereka (meskipun dalam tingkat yang jauh lebih rendah), karena ujung-ujung jari kita sangat sensitif untuk menerima atau mengirimkan energi halus. Bagi orang-orang pada tingkat ini, yang terbaik adalah jika mereka menggunakan postur tangan berdoa (mudrā) yang di sarankan di atas untuk berdoa. Jika semua faktor-faktor lainnya dianggap sama, dengan berdoa menggunakan mudrā yang direkomendasikan, seseorang akan menambah 20% pada efektivitas doa mereka dibandingkan dengan tidak menggunakan mudrā ini.

5.5 Perbandingan efektivitas dari posisi-posisi tangan berdoa

Kita terpengaruh oleh berbagai gerakan-gerakan tangan ketika berdoa. Ketika melakukan penelitian spiritual mengenai berbagai postur tangan (mudrās) terkait dengan berdoa, berikut ini adalah temuan kami dalam hal kemanjurannya:

Kemanjuran dari berbagai jenis posisi tangan berdoa

Posisi tangan berdoa Komparasi manfaat spiritual1 Tingkatan dari energi2 positif yang dapat diakses Kwantitas dari energi3 positif yang dapat diakses Gangguan dari energi negatif4
Cara berdoa yang terbaik dengan Namaskar-mudra

8%

Lebih tinggi

30%

2%

Berdoa dengan posisi tangan yang sedikit kurang baik 4% Sedang 10% 4%
Cara berdoa dengan posisi tangan yang kurang baik 2% Lebih rendah 5% 5%
Cara berdoa dengan posisi tangan yang tidak baik 2% Lebih rendah 5% 5%

Catatan-catatan:

  1. 100% adalah mendapatkan manfaat spiritual penuh, yang mana akan menghasilkan kesadaran sempurna akan Tuhan YME.
  2. Tingkat dari prinsip manifestasi dewa-dewi, mis. dewa-dewi tingkat tinggi, menengah atau rendah.
  3. Persentase dari prinsip dewa-dewi yang dapat diakses.
  4. Ini menunjukkan peluang energi negatif mengganggu doa untuk mengurangi iman sang pencari Tuhan. Energi negatif mengganggu doa sehingga tidak terjawab, dan menurunkan iman orang yang berdoa.

Cobalah lakukan eksperimen halus ini sendiri, dimana anda mengucapkan doa yang sama menggunakan setiap mudrās di atas secara terpisah.

Dalam beberapa kasus, orang saling berpegangan tangan ketika berdoa. Ini juga merupakan praktik spiritual yang tidak benar karena jika orang di samping kita dipengaruhi oleh energi negatif/hantu, akan lebih besar kemungkinan energi hitam itu dapat mengalir kepada kita.

Lihat di artikel ‘Seberapa banyak dari populasi dunia yang dipengaruhi oleh energi negatif/hantu?

6. Ringkasan poin-poin penting cara berdoa yang baik dan benar

  • Tingkat spiritual seseorang umumnya mendefinisikan apakah orang tersebut berdoa untuk pertumbuhan spiritual atau untuk keuntungan duniawi. Tergantung pada jenis doanya, dewa-dewi dengan tingkat yang lebih tinggi atau tingkat yang lebih rendah akan menjawab doa seseorang.
  • Emosi spiritual (bhav) dengan mana seseorang berdoa memiliki dampak positif pada efektivitas terkabulnya doa orang tersebut.
  • Tergantung pada posisi tangan berdoa (mudrā) digunakan, manfaat yang didapatkan seseorang melalui doa dapat bervariasi.
  • Semua hal lain dianggap sama, dengan menggunakan postur berdoa (mudrā) yang direkomendasikan dapat membantu meningkatkan efektivitas terkabulnya doa seseorang hingga 20%.
  • Doa yang diutarakan oleh orang-orang dengan tingkat kesadaran spiritual rendah untuk hal-hal yang mempengaruhi masyarakat luas, seperti perdamaian dunia atau pengurangan dampak pemanasan global, tidak memiliki pengaruh nyata.
  • Ketika seseorang menghaturkan rasa syukur bersamaan dengan doa, itu membantu untuk meningkatkan efektivitas terkabulnya doa orang tersebut.