{"id":8811,"date":"2019-02-02T10:30:17","date_gmt":"2019-02-02T10:30:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?page_id=8811"},"modified":"2019-02-02T10:30:17","modified_gmt":"2019-02-02T10:30:17","slug":"bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/","title":{"rendered":"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik"},"content":{"rendered":"<h1><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-8856 size-full\" src=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense.jpg\" alt=\"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik\" width=\"1501\" height=\"626\" srcset=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense.jpg 1501w, https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense-300x125.jpg 300w, https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense-768x320.jpg 768w, https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense-1024x427.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1501px) 100vw, 1501px\" \/><\/h1>\n<div id=\"toc_container\" class=\"no_bullets\"><p class=\"toc_title\">Daftar isi<\/p><ul class=\"toc_list\"><li><a href=\"#1_Contoh_seni_yang_sattvik_dan_perbandingannya_dengan_seni_biasa\">1. Contoh seni yang sattvik dan perbandingannya dengan seni biasa<\/a><\/li><li><a href=\"#2_Kriteria_untuk_seni_yang_sattvik\">2. Kriteria untuk seni yang sattvik<\/a><\/li><li><a href=\"#3_Melukis_gambar_dewa_dengan_tujuan_spiritual_yang_benar\">3. Melukis gambar dewa dengan tujuan spiritual yang benar<\/a><\/li><li><a href=\"#4_Lukisan_digital_menjadi_seperti_hidup\">4. Lukisan digital menjadi seperti hidup<\/a><\/li><li><a href=\"#5_Desain_tekstil_yang_sattvik_vs_desain_tamasik\">5. Desain tekstil yang sattvik vs desain tamasik<\/a><\/li><li><a href=\"#6_Kesimpulan\">6. Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/div>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><span id=\"1_Contoh_seni_yang_sattvik_dan_perbandingannya_dengan_seni_biasa\">1. Contoh seni yang <em>sattvik<\/em> dan perbandingannya dengan seni biasa<\/span><\/h2>\n<div class=\"bluebox\" style=\"text-align: justify\"><strong>Catatan:<\/strong> <em>Untuk memahami artikel ini dengan lebih baik,<\/em> <em>kami menyarankan Anda memulai dengan membaca artikel kami tentang <\/em><em><a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/komponen-dasar-terbentuknya-alam-semesta\/\">Sattva, Raja dan Tama<\/a><\/em><a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/spiritual-research\/the-universe\/sattva-raja-tama\/\"><em>.<\/em><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div>\n<p style=\"text-align: justify\">Satu hal yang mempersatukan seniman adalah bahwa mereka ingin meningkatkan rasa seni mereka untuk menghasilkan karya seni yang lebih baik. Setiap seniman ingin berkembang dalam gaya dan bidang pilihan mereka dan memberikan yang terbaik melalui karya seni mereka. Artis menggunakan berbagai teknik untuk melakukannya, termasuk mengamati lingkungan, berkolaborasi dengan seniman lain, latihan, dan banyak lagi. Namun, terdapat sebuah dimensi seni yang menyeluruh yang tidak dijelajahi oleh sebagian besar seniman, yaitu meningkatkan kemurnian spiritual pada karya seni mereka. Dalam artikel ini, kami mempertanyakan status quo dari dunia seni dan kriteria yang kami gunakan untuk mengevaluasi karya seni.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Seperti yang disebutkan dalam <u>artikel pengantar<\/u> bagian ini, subjek dari setiap lukisan haruslah <em><a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/komponen-dasar-terbentuknya-alam-semesta\/\">s\u0101ttvik<\/a><\/em> dan memiliki tujuan spiritual. Ini berarti subjek juga harus meningkatkan <em>sattvikta<\/em> di lingkungan atau membantu pengamatnya untuk bertumbuh secara spritual. Dengan demikian, subjek dari karya seni seperti itu dapat mencakup gambar <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/spiritualresearch\/spiritualscience\/deities\">dewa dewi<\/a>\/Tuhan, potret seorang Saint, desain sebuah sampul teks spiritual, pola tekstil yang <em>sattvik<\/em>, dll. Lukisan pemandangan yang indah atau potret orang terkenal yang tingkat kesadaran spiritualnya rata-rata mungkin terlihat estetis, namun tidak memiliki nilai dari perspektif spiritual. Namun jika pemandangan tersebut mencakup tempat ibadah yang membangkitkan devosi pada pengamatnya, maka lukisan semacam itu dianggap <em>sattvik<\/em> dan sesuai dengan tujuan spiritual kehidupan. Oleh karena itu, ini membatasi ruang lingkup subjek yang harus dipertimbangkan untuk dilukis oleh seniman. Pada bagian berikutnya, tercantum beberapa kriteria yang dapat dipertimbangkan oleh seniman sebelum melakukan proyek seni untuk memastikan karya seninya <em>sattvik<\/em> dan sesuai dengan tujuan spiritual hidup. Kriteria ini menunjukkan bagaimana seorang seniman harus berpikir sebelum mencoba suatu karya seni.<\/p>\n<h2><span id=\"2_Kriteria_untuk_seni_yang_sattvik\">2. Kriteria untuk seni yang <em>sattvik<\/em><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Kriteria pertama yang perlu dipertimbangkan saat membuat karya seni adalah <strong>niat senimannya<\/strong>. Seniman dapat memiliki berbagai maksud ketika mengerjakan suatu karya seni, tetapi niat itu biasanya berujung pada kebutuhan untuk mengekspresikan diri, mendukung sebuah visi, kebutuhan untuk memperoleh apresiasi dan atau keuntungan materi. Namun dari perspektif spiritual, yang paling penting adalah sang seniman mempertahankan tujuan untuk tumbuh secara spiritual dengan membuat karya seni dan untuk mengurangi ego. Ketika karya seni dibuat sebagai latihan spiritual, seniman menerima panduan tentang cara membuat karya seni dari seorang <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/pencerahan-spiritual\/siapakah-guru-spiritual\/\">pemandu yang berkembang secara spiritual<\/a>. Ketika karya seni dibuat seperti ini, hasilnya memancarkan kemurnian spiritual dan senimannya menyadari bahwa itu adalah karena bimbingan dari pemandu yang sudah maju secara spiritual sehingga memungkinkannya untuk membuat karya seni. Ini membangkitkan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/latihan-spiritual\/berdoa\/manfaat-selalu-bersyukur\/\">rasa syukur<\/a> dalam diri seniman, yang membantu mengurangi aspek ego yang disebut <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/latihan-spiritual\/langkah-langkah-latihan-spiritual\/cara-mengurangi-ego\/cara-berserah-diri-kepada-tuhan-dengan-mengurangi-sikap-pelaku-doership\/\">sikap pelaku<\/a>, atau perasaan bahwa sang seniman telah membuat karya seni. Inilah caranya menjadikan seni sebagai bagian dari latihan spiritual mengurangi ego seseorang. Pada tahap selanjutnya, seniman dipandu langsung oleh Tuhan YME, dan kemudian sang seniman menyadari bahwa hanya Tuhan yang membuat karya seni, yang juga mengurangi sikap pelaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kriteria lain yang perlu dipertimbangkan adalah <strong>tujuan dari karya seni<\/strong>. Umumnya, seniman menciptakan karya seni untuk mengkomunikasikan ide atau sebagai bentuk ekspresi diri. Ini bisa jadi untuk mengirim pesan politik, spiritual atau filosofis, untuk menciptakan rasa keindahan (estetika) atau untuk menghasilkan emosi yang kuat dari pengamatnya. Agar suatu karya seni selaras dengan tujuan spiritual hidup, tujuan karya seni haruslah untuk meningkatkan kemurnian spiritual di masyarakat, meningkatkan devosi dan menginspirasi orang lain untuk membuat upaya untuk tumbuh secara spiritual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kriteria pokok ketiga yaitu <strong>apakah karya seni dibuat sesuai dengan sains spiritual dari seni<\/strong>. Terdapat sains spiritual yang mengatur cara menggambarkan subjek karya seni dengan cara yang murni secara spiritual. Misalnya, desain yang <em>sattvik<\/em> dapat dipilih saat menentukan desain untuk selembar kain. Contoh lainnya bisa jadi melukis gambar Tuhan sambil melakukan upaya untuk menggambar Tuhan sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk yang sebenarnya. Membuat karya seni di bawah bimbingan pemandu yang berkembang secara spiritual membantu untuk memastikan bahwa karya tersebut dibuat sesuai dengan sains spiritual seni. Selain itu, ketika seniman meningkatkan latihan spiritual mereka, <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/indra-keenam-intuisi\">indera keenam<\/a> seniman tersebut berkembang dan ini membuatnya dapat merasakan getaran spiritual dari karya seni yang mereka ciptakan. Ini membantu seniman untuk memahami langsung pentingnya membuat karya seni sesuai sains spiritual seni.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berdasarkan sains spiritual, meskipun Tuhan YME adalah satu, Dia bermanifestasi dalam berbagai bentuk untuk melakukan berbagai fungsi di Alam Semesta yang dikenal dan tidak dikenal. Misalnya, terdapat wujud Tuhan yang bertanggung jawab atas pengetahuan, perlindungan, kesehatan, dll. Menurut ilmu Spiritualitas, setiap wujud Tuhan memiliki atribut yang unik dan dikenal sebagai dewa. Oleh karena itu, setiap dewa merupakan Prinsip Ilahi yang spesifik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu jenis seni yang paling sulit adalah melukis gambar dewa. Ini karena dewa kodratnya sangat halus dan sulit untuk memahami wujud dewa. Menggambar dewa merupakan hal yang paling dekat yang bisa mewakili Tuhan YME secara visual. Ini membutuhkan tingkat indera keenam yang sangat tinggi dan bimbingan konstan dari pemandu yang berkembang secara spiritual untuk memahami wujud dewa dan menggambarnya secara akurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di Maharshi Adhyatma Vishwavidyalay (MAV), para seniman yang juga pencari Tuhan YME (seeker) telah menggambar berbagai lukisan Dewa Dewi yang murni secara spiritual baik dengan tangan maupun secara digital dengan menjaga kriteria yang tersebut di atas. Ketika lukisan yang murni secara spiritual tercipta, ini memberikan banyak manfaat spiritual yang tercantum di bawah ini.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><span id=\"3_Melukis_gambar_dewa_dengan_tujuan_spiritual_yang_benar\">3. Melukis gambar dewa dengan tujuan spiritual yang benar<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Sebuah gambar dewa yang dibuat dengan tujuan yang tepat memiliki potensi untuk memberi manfaat secara spiritual kepada pengamatnya serta lingkungan. Jika sebuah gambar dewa dibuat sesuai dengan sains seni dibawah bimbingan seorang pemandu yang berkembang secara spiritual, maka manfaat-manfaat berikut dapat diperoleh.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>Lukisan dewa menarik dan menghasilkan Prinsip dan energi dari dewa tersebut.<\/li>\n<li>Lukisan dewa juga memancarkan vibrasi yang murni secara spiritual ke lingkungan.<\/li>\n<li>Hal ini meningkatkan kemurnian spiritual di lingkungan.<\/li>\n<li>Kemurnian spiritual dari lukisan tersebut membantu meningkatkan iman dan devosi dalam diri seorang penyembah Tuhan. Oleh karena iman dan pengabdian mereka, Prinsip Dewa Dewi dalam jumlah besar tertarik pada lukisan itu.<\/li>\n<li>Energi mengganggu di lingkungan lenyap karena energi positif dari lukisan tersebut.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Banyak lukisan digital Dewa Dewi telah dibuat di Pusat Penelitian Spiritual dan Ashram. Manfaat yang tercantum di atas telah terlihat pada lukisan tersebut. Selain itu, oleh karena tingginya proporsi Prinsip Dewa yang ada dalam lukisan-lukisan itu, beberapa lukisan terlihat seperti hidup, dan ciri tersebut tercantum di bawah ini.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><span id=\"4_Lukisan_digital_menjadi_seperti_hidup\">4. Lukisan digital menjadi seperti hidup<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika sebuah lukisan digital dibuat sesuai dengan sains spiritual seni, lukisan tersebut menjadi lebih positif (<em>sattvik<\/em>). Dalam hal lukisan digital (gambar) dewa, Prinsip keilahian terserap ke dalam gambar tersebut dan mulai terlihat hidup. Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang teramati dalam lukisan digital Dewa Dewi yang dilukis oleh seeker seniman.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li>Mata dari dewa mengikuti pengamat.<\/li>\n<li>Ketika pengamat bergerak di sekitar gambar, nampak seolah-olah dewa bergerak mengikuti arah pengamat untuk terus menatapnya.<\/li>\n<li>Berbagai pengamat melihat ekspresi yang berbeda-beda dari dewa. Hal ini dapat bergantung pada emosi spiritual (bh\u0101v) dan pengabdian dari pengamat.<\/li>\n<li>Pengamat lukisan digital Dewa Dewi (yang digambar oleh seeker seniman) telah melihat gerakan pada gambar. Misalnya, pergerakan rambut, hiasan, pernafasan dll.<\/li>\n<li>Pengamat juga merasakan energi positif dari gambar-gambar tersebut. Misalnya, pengamat merasa tertarik dengan gambar itu, mereka mengalami penyembuhan spiritual atau mengalami berbagai pengalaman spiritual dengan melihat gambar tersebut, dll.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Beberapa seniman dapat dengan sengaja menghasilkan beberapa efek yang disebutkan di atas dalam lukisan mereka dengan memanipulasi cahaya dan bayangan untuk menciptakan ilusi perspektif. Namun, para seeker seniman dari MAV belum secara sengaja melakukan upaya untuk menciptakan efek semacam itu. Meski begitu, gambar-gambar tersebut memperoleh atribut seperti hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika sebuah lukisan menjadi seperti hidup, ini memberikan manfaat spiritual tambahan. Hal ini karena fenomena tersebut merupakan fenomena spiritual yang unik yang membangkitkan emosi spiritual pada orang yang menyaksikan. Juga proporsi Prinsip Dewa yang dipancarkan lebih besar ketika gambar memiliki kualitas seperti hidup, yang memurnikan pengamat dan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Manfaat dari karya seni yang <em>sattvik<\/em> tidak terbatas pada lukisan dewa-dewi, dan itu berlaku untuk semua jenis seni. Salah satu contohnya yaitu melibatkan desain seperti di bawah ini.<\/p>\n<h2><span id=\"5_Desain_tekstil_yang_sattvik_vs_desain_tamasik\">5. Desain tekstil yang <em>sattvik<\/em> vs desain <em>tamasik<\/em><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Penerapan menghasilkan desain yang lebih murni secara spiritual dan bentuk-bentuk seni sangatlah banyak. Ini dapat mencakup desain yang berkaitan dengan tekstil, perhiasan, pakaian, kain pelapis, sprei, dll. Pada bagian ini, terdapat dua contoh desain kain. Yang pertama memperlihatkan desain yang <em>sattvik<\/em> (Gambar A), yang kedua menggambarkan desain<em> t\u0101masik<\/em> (Gambar B).<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-8815 aligncenter\" src=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/01\/18151956\/satvik_asatvik-v1.jpg\" alt=\"\" width=\"720\" height=\"356\" srcset=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/01\/18151956\/satvik_asatvik-v1.jpg 720w, https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/01\/18151956\/satvik_asatvik-v1-300x148.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketika para pencari Tuhan YME (seeker) diminta untuk melakukan eksperimen halus untuk menentukan desain mana yang memancarkan getaran spiritual yang lebih positif, sebagian besar seeker menemukan bahwa gambar A memancarkan getaran\/vibrasi positif sementara gambar B memancarkan getaran negatif. Temuan ini telah dikonfirmasi melalui indra keenam mendalam oleh tim peneliti spiritual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Desain yang <em>sattvik<\/em> telah dipersiapkan oleh departemen seni di MAV. Desain ini memiliki warna <em>sattvik<\/em> seperti biru muda dan putih, dan juga dengan desain bunga simetris. Bentuk bunganya pun <em>sattvik<\/em>. Sebaliknya, desain yang<em> tamasik<\/em> itu asimetris. Bentuk polanya juga tidak beraturan, dan memancarkan vibrasi yang dominan Tama. Warna yang digunakan tidak saling melengkapi satu sama lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pakaian paling dekat dengan tubuh, maka pakaian memiliki dampak besar di tingkat vibrasi pada seseorang. Seseorang yang mengenakan pakaian dengan desain <em>tamasik<\/em> sepanjang hari akan dipengaruhi oleh vibrasi dominan <em>Tama<\/em>. Di sisi lain, seseorang yang mengenakan pakaian dengan desain <em>sattvik<\/em> sepanjang hari akan mendapat manfaat dari kepositifannya. Beberapa efek buruk yang dapat dialami seseorang saat mengenakan pakaian yang dominan <em>Tama<\/em> termasuk sakit kepala, tidak dapat berpikir, pemikiran negatif, dll. Di sisi lain, beberapa manfaat yang terkait dengan mengenakan pakaian yang dominan <em>Sattva<\/em> mencakup perasaan ringan, pikiran jernih, chanting menjadi lebih dalam, dll. Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana desain dapat mempengaruhi orang-orang setiap hari. Setiap desain yang bersentuhan dengan kita mempengaruhi kita di tingkat spiritual. Jelas, membuat desain di sekitar kita menjadi <em>sattvik<\/em> akan menguntungkan semua orang secara spiritual.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify\"><span id=\"6_Kesimpulan\">6. Kesimpulan<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Aplikasi seni sattvik sangatlah banyak. Dua contoh di atas menunjukkan bagaimana seni <em>sattvik<\/em> dapat bermanfaat bagi orang-orang dalam kehidupan kita. Dalam artikel-artikel berikut di bagian ini, kami akan membahas proses bagaimana para seeker seniman di MAV secara praktis menerapkan prinsip-prinsip itu ketika menciptakan karya seni dan berbagai prinsip pokok yang mendasari seni <em>sattvik<\/em>. Kita semua terpengaruh di tingkat spiritual oleh seni di sekitar kita, sehingga kita semua dapat memperoleh manfaat dengan mempelajari prinsip-prinsip ini. Seorang seniman tidak hanya terbatas pada penciptaan karya seni yang menarik bagi indra fisik, tetapi kita dapat secara aktif berkontribusi untuk meningkatkan kemurnian spiritual dalam masyarakat melalui karya seni.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pelajari bagaimana karya seni dapat memiliki pengaruh di tingkat spiritual dan cara untuk merasakannya.<\/p>\n","protected":false},"featured_media":0,"parent":8858,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik - SSRF Indonesian<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/\",\"name\":\"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik - SSRF Indonesian\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/IND-Better-Artsense.jpg\",\"datePublished\":\"2019-02-02T10:30:17+00:00\",\"dateModified\":\"2019-02-02T10:30:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense.jpg\",\"width\":1501,\"height\":626},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penelitian Spiritual\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Penelitian Spiritual lainnya\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Penelitian Spiritual pada Seni dan Desain\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\",\"name\":\"SSRF Indonesian\",\"description\":\"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik - SSRF Indonesian","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/","name":"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik - SSRF Indonesian","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/IND-Better-Artsense.jpg","datePublished":"2019-02-02T10:30:17+00:00","dateModified":"2019-02-02T10:30:17+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#primaryimage","url":"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense.jpg","contentUrl":"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2019\/02\/18151956\/IND-Better-Artsense.jpg","width":1501,"height":626},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/bagaimana-cara-merasakan-seni-lebih-baik\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penelitian Spiritual","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Penelitian Spiritual lainnya","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/"},{"@type":"ListItem","position":4,"name":"Penelitian Spiritual pada Seni dan Desain","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/penelitian-spiritual-lainnya\/penelitian-spiritual-pada-seni-dan-desain\/"},{"@type":"ListItem","position":5,"name":"Bagaimana cara memiliki rasa seni yang lebih baik"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/","name":"SSRF Indonesian","description":"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false,"post-thumbnail":false},"uagb_author_info":{"display_name":"MountainWarriror","author_link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/author\/aavashthapa\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Pelajari bagaimana karya seni dapat memiliki pengaruh di tingkat spiritual dan cara untuk merasakannya.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8811"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47078"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8811"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8857,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8811\/revisions\/8857"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}