{"id":8079,"date":"2018-07-28T18:01:11","date_gmt":"2018-07-28T18:01:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?page_id=8079"},"modified":"2024-08-17T04:42:38","modified_gmt":"2024-08-17T04:42:38","slug":"apakah-membunuh-dosa","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/","title":{"rendered":"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual"},"content":{"rendered":"<p>Untuk memahami artikel ini silahkan baca artikel tentang <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/kesulitan-spiritual\/karma-takdir\/apa-itu-pahala-dosa\/\">\u2018Apakah yang dimaksud pahala dan dosa?\u2019<\/a><\/p>\n<div id=\"toc_container\" class=\"no_bullets\"><p class=\"toc_title\">Daftar isi<\/p><ul class=\"toc_list\"><li><a href=\"#1_Pengantar_sudut_pandang_spiritual_tentang_membunuh\">1. Pengantar sudut pandang spiritual tentang membunuh<\/a><\/li><li><a href=\"#2_Sebuah_perspektif_spiritual_mengenai_dosa_karena_membunuh\">2. Sebuah perspektif spiritual mengenai dosa karena membunuh<\/a><ul><li><a href=\"#21_Kompleksitas_menentukan_jumlah_dosa_yang_disebabkan_dari_membunuh_makhluk_hidup_lainnya\">2.1 Kompleksitas menentukan jumlah dosa yang disebabkan dari membunuh makhluk hidup lainnya<\/a><\/li><li><a href=\"#22_Beberapa_konsep_lain_terkait_pembunuhan\">2.2 Beberapa konsep lain terkait pembunuhan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li><a href=\"#3_Bobot_relatif_dosa_tergantung_dari_siapa_yang_dibunuh\">3. Bobot relatif dosa tergantung dari siapa yang dibunuh<\/a><ul><li><a href=\"#31_Beberapa_petunjuk_tentang_bagaimana_niat_pembunuhan_dapat_mempengaruhi_dosa_yang_diterima\">3.1 Beberapa petunjuk tentang bagaimana niat pembunuhan dapat mempengaruhi dosa yang diterima\u00a0<\/a><\/li><li><a href=\"#32_Metode_membunuh_dapat_mempengaruhi_dosa\">3.2 Metode membunuh dapat mempengaruhi dosa<\/a><\/li><\/ul><\/li><li><a href=\"#4_Beberapa_poin_ringkasan_utama_berkaitan_dengan_pembunuhan_dan_dosa\">4. Beberapa poin ringkasan utama berkaitan dengan pembunuhan dan dosa<\/a><\/li><\/ul><\/div>\n<h2><span id=\"1_Pengantar_sudut_pandang_spiritual_tentang_membunuh\">1. Pengantar sudut pandang spiritual tentang membunuh<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Setiap tahun, orang-orang di Yulin, Guangxi, sebuah wilayah di Cina, merayakan Musim Panas dengan mengadakan festival makan anjing, dimana lebih dari 10.000 sampai 15.000 ekor anjing dibunuh dan dikonsumsi dengan leci dan minuman keras. Hal ini mengundang reaksi keras dari grup hak asasi hewan dan media sosial. Hal ini secara luas dikecam sebagai hal yang kejam dan tidak manusiawi. Daging anjing juga dimakan di banyak belahan lain dunia. Orang-orang yang sama yang menolak\u00a0 pembunuhan anjing untuk makanan mungkin juga adalah orang yang suka makan daging sapi. Di Amerika sendiri sekitar 100.000 sapi dibunuh <strong>setiap hari pertahunnya<\/strong> bersamaan dengan lebih dari 20 juta ekor ayam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cApa yang membuat hidup anjing lebih berharga daripada hidup sapi atau ayam?\u201d bantah orang-orang yang makan daging anjing. \u201cBagaimanapun juga mereka sama-sama hewan\u201d, mereka merasionalisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cSeekor anjing adalah kawan baik manusia!\u201d balasan yang cepat dan kurang meyakinkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Antara anjing dengan manusia terdapat ikatan emosional alami yang berkembang. Di sisi lain kita tidak memiliki ikatan emosional dengan sapi, ayam, dan ikan. Apakah hal ini berarti kita boleh membunuh mereka? Setiap tahunnya umat manusia membunuh lebih dari <a href=\"http:\/\/www.adaptt.org\/killcounter.html\">150 juta ikan, hewan dan unggas<\/a>. Orang non vegetarian mempertahankan kebutuhan mereka untuk makan daging dengan mengatakan bahwa tumbuhan juga memiliki hidup dan orang vegetarian juga membunuh tanaman. Beberapa orang non vegetarian merasa jika mereka makan daging hewan yang dibunuh dengan cara yang benar, maka tidak apa-apa, berlawanan dengan beberapa budaya dimana hewan mati pelan-pelan dengan membelah sedikit bagian tenggorokannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Semua kehidupan itu berharga. Apakah kita menanggung dosa dengan membunuh atau menjadi bagian dari alasan mengapa hewan dibunuh? Di dunia yang semakin terbelenggu dengan konflik dan peperangan dimana ribuan orang terbunuh, pada artikel ini kami berbagi sudut pandang spiritual mengenai gravitasi dari <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/kesulitan-spiritual\/karma-takdir\/apa-itu-pahala-dosa\/\">dosa atau cela<\/a> akibat dari seseorang yang membunuh sesamanya, hewan, ikan, dan tumbuhan.<\/p>\n<h2><span id=\"2_Sebuah_perspektif_spiritual_mengenai_dosa_karena_membunuh\">2. Sebuah perspektif spiritual mengenai dosa karena membunuh<\/span><\/h2>\n<h3><span id=\"21_Kompleksitas_menentukan_jumlah_dosa_yang_disebabkan_dari_membunuh_makhluk_hidup_lainnya\">2.1 Kompleksitas menentukan jumlah dosa yang disebabkan dari membunuh makhluk hidup lainnya<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada awalnya penting untuk dipahami bahwa terkait topik ini hanya dapat diberikan pedoman yang sangat luas. Alasan untuk merujuk informasi ini sebagai pedoman yang luas adalah karena ada banyak alasan mengapa seseorang membunuh makhluk hidup lainnya. Bergantung pada alasan atau niatan dibalik tindakan seseorang, tingkat keparahan dosanya dapat bermacam-macam berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">Apakah terdapat <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/kesulitan-spiritual\/karma-takdir\/hukum-karma-sebab-akibat\/\">akun memberi-dan-menerima (karma)<\/a> antara pembunuh dan korban? Di masa lalu peran keduanya bisa jadi terbalik, mendorong penyelesaian akun di kehidupan ini.<\/li>\n<li>Apakah si pembunuh dalam keadaan mabuk?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Apakah si pembunuh melakukannya dibawah pengaruh energi negatif?<\/li>\n<li>Cara apa yang digunakan untuk membunuh?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Apakah pembunuhan dilakukan sebagai tugas, seperti dalam kasus seorang tentara?<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Apa motif dibalik pembunuhan? Apakah direncanakan, untuk kesenangan, atau karena mempertahankan diri?<\/li>\n<li>Apakah pembunuhan dilakukan untuk mendapat makanan?<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Seperti yang Anda lihat, ada banyak faktor yang dipertimbangkan ketika gravitasi dosa (atau cela) ditentukan di pengadilan Tuhan YME untuk tindakan membunuh. Pengadilan biasa tidak punya alat ataupun indra keenam penglihatan untuk dapat melihat berbagai macam seluk beluk ketika menentukan hukuman kepada pembunuh. Di pengadilan Tuhan walaupun si pembunuh cukup pintar untuk menghindari sistem keadilan, tapi dia tidak bisa menghindar dari <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/kesulitan-spiritual\/karma-takdir\/hukum-karma-sebab-akibat\/\">hukum universal memberi-dan-menerima atau hukum Karma<\/a>. Kita semua lahir dengan takdir yang harus kita jalani berdasarkan tindakan kita dari kehidupan sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan terkait dengan waktu kita hidup sekarang ini, yaitu pentingnya waktu atau siklus di Alam Semesta. Kita saat ini sedang berada dalam periode yang buruk dalam sejarah umat manusia. Pada tahun 2012 hingga 2023, takdir kolektif dari umat manusia akan memiliki akibat yang signifikan pada setiap orang yang akan melampaui takdir individual mereka sendiri. Periode yang pergolakan ini dikarenakan dosa yang dilakukan oleh umat manusia karena menjalani cara hidup yang dominan <em><a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/komponen-dasar-terbentuknya-alam-semesta\/\">Raja-Tama<\/a><\/em> dan yang dimanfaatkan oleh energi negatif kuat untuk menyebabkan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-global\/perang-akhir-zaman\/\">Armageddon<\/a>. Banyaknya peperangan dan bencana alam terjadi di seluruh dunia merupakan gambaran dari periode ini. Hal ini pada akhirnya akan memunculkan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-global\/perang-akhir-zaman\/\">Perang Dunia ke-3<\/a> dimana separuh dari populasi dunia akan mati.<\/p>\n<h3><span id=\"22_Beberapa_konsep_lain_terkait_pembunuhan\">2.2 Beberapa konsep lain terkait pembunuhan<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\">Ada beberapa aspek lain yang perlu disebutkan berkaitan dengan seseorang yang membunuh makhluk hidup lainnya:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\">Seluruh makhluk hidup perlu memakan organisme hidup atau sesuatu yang organik. Inilah hukum kehidupan. Contohnya, seseorang tidak bisa makan batu dan dihidupi oleh batu.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Tuhan YME adalah satu-satunya pencipta yang juga merupakan bagian dari ciptaanNya. Dengan kata lain, prinsip Tuhan ada di benda hidup maupun benda mati dalam proporsi yang beragam.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Bergantung pada proporsi dari prinsip Tuhan, setiap orang, hewan dan tumbuhan bisa jadi memiliki proporsi <em><a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/komponen-dasar-terbentuknya-alam-semesta\/\">Sattva, Raja dan Tama<\/a><\/em> yang berbeda-beda. Seseorang membuat dosa besar dengan membunuh makhluk yang dominan <em>Sattva<\/em> karena itu mengurangi jumlah dari <em>sattvikta<\/em> atau kemurnian spiritual di masyarakat. Di sisi lain, seseorang membuat sedikit dosa jika ia membunuh makhluk yang dominan <em>Tama<\/em> dan terutama jika makhluk tersebut berdampak negatif bagi masyarakat. Ketika keseluruhan <em>sattvikta<\/em> di masyarakat menurun sebagai akibat dari pemikiran dan tindakan manusia, hal ini menyebabkan berbagai macam masalah pada tingkat pribadi dan juga masyarakat. <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-global\/dampak-pemanasan-global\/\">Pola cuaca yang aneh<\/a> yang kita saksikan saat ini adalah salah satu akibat dari berkurangnya kemurnian spiritual dan meningkatnya <em>Raja<\/em>&#8211;<em>Tama<\/em> di seluruh lingkungan.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Membunuh makhluk hidup yang bermanfaat bagi umat manusia membuat dosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk hidup yang tidak bermanfaat. Umumnya semua hewan yang bermanfaat atau mempunyai ikatan dengan umat manusia dominan <em>Sattva<\/em>&#8211;<em>Raja<\/em> dan memiliki tingkat <em>sattvikta<\/em> yang lebih tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Tujuan bertumbuh secara rohani untuk mencapai kesadaran Tuhan YME merupakan tujuan tertinggi yang dapat dimiliki seseorang. Terlepas dari menyelesaikan takdir, tujuan tersebut adalah alasan tertinggi mengapa <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/kundalini-chakras\/hakikat-manusia\/\">tubuh halus diberikan kelahiran menjadi manusia<\/a>. Manusia adalah satu-satunya spesies yang dapat membuat kemajuan spiritual oleh karena kemampuan berpikir dan kecerdasan mereka. Oleh sebab itu kehidupan manusia dipandang lebih berharga daripada makhluk lainnya oleh karena potensinya untuk bertumbuh secara spiritual dalam kehidupan mereka.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Seseorang menimbulkan lebih banyak dosa jika menyiksa manusia atau hewan ketika melakukan pembunuhan terlepas dari adat istiadat dan tradisi yang diyakininya.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span id=\"3_Bobot_relatif_dosa_tergantung_dari_siapa_yang_dibunuh\">3. Bobot relatif dosa tergantung dari siapa yang dibunuh<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify\">Tabel ini menunjukkan gravitasi relatif dari dosa yang diperbuat ketika seseorang membunuh makhluk hidup lainnya. Untuk memberikan perkiraan perbandingan dari dosa yang diperbuat, dalam artikel ini yang dipertimbangkan hanya maksud dibalik pembunuhan dan metode pembunuhannya. <strong>Ketika kita melihat jumlah dosa yang disebabkan dari membunuh makhluk hidup lainnya, maksud\/tujuan dibalik tindakan tersebut 70% penting, sedangkan tindakannya hanya 30% penting<\/strong>. Jumlah relatif dosa yang disebabkan (kolom ke-3) yang telah dinyatakan sebagai persentase <strong>mencakup dosa dari tujuan dan tindakan membunuh. <\/strong><\/p>\n<p>Harap dicatat bahwa semua angka yang diberikan dalam tabel di bawah ini merupakan indikator rata-rata dari dosa yang disebabkan dan dapat bervariasi +\/- 5% sampai 10% bergantung dari jenis orang, hewan atau tumbuhan yang dibunuh.<\/p>\n<table class=\"tablestyle\">\n<tbody>\n<tr>\n<th style=\"text-align: left\"><strong>Siapa yang dibunuh\/dihancurkan?<\/strong><\/th>\n<th style=\"text-align: left\"><strong>Proporsi umum dari Prinsip Ilahi (%)<\/strong> (%)<\/th>\n<th style=\"text-align: left\"><strong>Jumlah relatif dari dosa yang disebabkan %<\/strong><\/th>\n<th style=\"text-align: left\"><strong>Komentar dari dosa yang disebabkan<\/strong><\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td colspan=\"4\"><strong>Benda mati<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Semua benda mati seperti batu, kayu, dan besi. (tidak termasuk benda <em>s\u0101ttvik <\/em>seperti patung Dewa Dewi, tempat ibadah.)<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1\/10 \u2013 1\/1 juta<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">\u2013<\/td>\n<td><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Tempat ibadah dimana prinsip Ilahi aktif<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">2-6<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">25-35<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Kita berbuat dosa besar jika kita menghancurkan tempat ibadah yang prinsip Ilahinya aktif. Prinsip Ilahi aktif di tempat-tempat yang kesucian tempatnya terjaga.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\" colspan=\"4\"><strong>Kuman dan serangga<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Mikro-organisme yang merupakan patogen (kuman)<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1\/10<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1\/10<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Beragam mikro-organisme yang berguna bagi manusia<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">2\/10<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">2\/10<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Beragam serangga termasuk hama-hama seperti nyamuk dan kecoa<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1-3<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1-3<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\" colspan=\"4\"><strong>Tanaman<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: left\">Tanaman biasa<strong><sup>1<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1-4<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">4-6<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Tanaman yang dapat dimakan diciptakan Tuhan untuk konsumsi manusia. Ini mencakup tanaman seperti bayam dan wortel. Kapasitas mereka untuk merasakan sakit tidak sempurna. Ketika kita berdoa sebelum makan, kita melepaskan diri kita dari dosa. Chanting (mengucapkan Nama YME) yang berkelanjutan juga membantu mengatasi dosa seperti itu. Jika kita memetik buah dan sayuran dari tumbuhan tanpa membunuhnya, maka kita tidak berdosa.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Pembabatan hutan skala besar<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">1-4<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">4-10<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Dosanya besar karena berdampak luas pada masyarakat dan perubahan cuaca.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Tanaman yang berhubungan dengan prinsip Ilahi di alam semesta dan yang digunakan dalam ibadah ritualistik. Misalnya, Tulasi (kemangi suci), Kembang sepatu (Hibiscus).<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">5-12<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">8-12<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Dosa yang diterima besar karena menghancurkan tanaman dan tumbuhan seperti itu mengurangi <em>sattvikta<\/em> (kemurnian spiritual) di masyarakat.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\" colspan=\"4\"><strong>Ikan <\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Ikan biasa\u00a0 dan ikan bercangkang seperti sarden dan udang.<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">4-6<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">5-7<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Mengingat pembunuhan ikan oleh manusia secara besar-besaran yang terjadi setiap tahunnya, hal ini berpotensi menjadi salah satu alasan besar penyebab dosa kolektif umat manusia.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Makhluk bawah air yang lebih tinggi seperti lumba-lumba dan paus yang merupakan mamalia dan yang bersahabat dengan manusia.<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">6-8<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">8-10<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\" colspan=\"4\"><strong>Unggas <\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Unggas biasa (termasuk kalkun, ayam, bebek)<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">6-8<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">8-12<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Mengingat pembunuhan unggas oleh manusia secara besar-besaran yang terjadi setiap tahunnya, hal ini berpotensi menjadi salah satu alasan besar penyebab dosa kolektif umat manusia.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: left\">Yang dijinakkan, misalnya kakatua.<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">8-11<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">13-17<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Burung yang memiliki hubungan dengan manusia biasanya dianggap lebih <em>sattvik <\/em>(murni secara spiritual).<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Burung khusus yang terkait dengan prinsip Ilahi, misalnya, angsa, elang, dan merak.<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">12-15<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">18-22<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: left\" colspan=\"4\"><strong>Hewan<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Hewan liar, misalnya macan, singa, ular<strong><sup>2<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">5-8<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">Beragam<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Benar-benar tergantung dari tujuan, contohnya untuk melindungi diri, untuk berburu atau untuk dimakan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Hewan biasa mencakup persediaan hidup seperti sapi Jersey, kambing dan babi.<strong><sup> 3<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">9-13<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">8-12<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Merampas hak hidup mereka. Mengingat pembunuhan besar-besaran hewan ternak oleh manusia yang terjadi tiap tahunnya, hal ini berpotensi menjadi salah satu alasan besar penyebab dosa kolektif umat manusia.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Hewan jinak, misalnya, anjing, kucing dan kuda<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">15-17<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">18-22<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Membunuh hewan yang berguna untuk manusia menimbulkan dosa yang lebih tinggi daripada yang tidak berguna. Biasanya semua hewan yang berguna atau memiliki hubungan dengan manusia dominan <em>Sattva<\/em>&#8211;<em>Raja<\/em> sehingga memiliki tingkat <em>Sattvikta<\/em> yang lebih tinggi dibandingkan hewan lainnya.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Yang berhubungan dengan tempat ibadah, misalnya, gajah, lembu jantan (Nandi)<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">13-14<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">38-42<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: left\">Sapi India<strong><sup>3,7<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">31-33<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">45-55<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Sapi India adalah hewan yang paling <em>sattvik<\/em> dan <em>sattvikta<\/em>-nya setara dengan orang di tingkat spiritual 30%. Yang lebih penting lagi, sapi India memiliki kemampuan illahi untuk memancarkan prinsip Ilahi (yang ada di dalamnya) ke lingkungan sekitar. Oleh karenanya seseorang berdosa berat jika membunuh hewan yang membuat lingkungan menjadi <em>sattvik<\/em> dan memberikan minuman yang paling <em>sattvik<\/em> yaitu susu.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\" colspan=\"4\"><strong>Manusia <\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Orang jahat yang memiliki kecenderungan untuk merugikan orang lain (bersifat dominan <em>Tama<\/em>)<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">15-20<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">28-32<sup>4<\/sup><\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Seburuk apapun seseorang, dengan membunuhnya kita merampas kesempatannya untuk melakukan latihan spiritual dan menggunakan hidupnya untuk bertumbuh secara spiritual. Karenanya orang yang melakukan pembunuhan kepada orang seperti itu menyebabkan dosa. Di sisi lain, ketika seseorang membunuh orang jahat yang merugikan masyarakat, ia juga mendapat pahala sebanyak 31-41%. Hal ini dikarenakan menyelamatkan masyarakat dari gangguan orang jahat.<strong><sup> 4<\/sup><\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Orang biasa<strong><sup>5<\/sup><\/strong>(dominan komponen <em>Raja<\/em> yang tidak melakukan hal buruk pada masyarakat)<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">21-25<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">38-42<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Ketika orang biasa dibunuh maka ia kehilangan kesempatan untuk melakukan latihan spiritual dan bertumbuh secara spiritual yang merupakan tujuan spiritual dari hidup mereka. Oleh karena itu orang yang membunuhnya mendapat dosa.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Seorang <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/latihan-spiritual\/pertumbuhan-spiritual\/seorang-pencari\/\">pencari Tuhan YME (seeker)<\/a><strong><sup>7<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">30-69<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">45-55<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Seorang seeker telah menyadari pentingnya latihan spiritual sehingga berusaha sungguh-sungguh untuk tumbuh secara spiritual. Maka seorang seeker adalah orang yang menjalani hidupnya\u00a0 sesuai dengan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/kesulitan-spiritual\/karma-takdir\/arti-tujuan-hidup-manusia\/\">tujuan hidup yang sebenarnya<\/a>. Seorang seeker juga meningkatkan <em>sattvikta<\/em> dalam masyarakat dan karenanya membunuh seorang seeker menyebabkan dosa yang besar.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Seseorang yang bunuh diri<strong><sup>6<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">15-25<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">Beragam<strong><sup>6<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Lihat artikel tentang \u2018<a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-setelah-kematian\/kehidupan-setelah-kematian\/#7_Bunuh_diri_dan_kehidupan_di_alam_setelah_kematian\">Kemana kita pergi setelah kematian<\/a>\u2019- Bagian 7 \u2013 Bunuh diri dan kehidupan setelah kematian.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: justify\">Seorang Saint (Orang Suci)<strong><sup>7<\/sup><\/strong><\/td>\n<td style=\"text-align: center\">70-99<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">100<\/td>\n<td style=\"text-align: justify\">Seseorang dikenakan <strong>dosa terberat<\/strong> ketika membunuh seorang Saint. Orang Suci adalah orang yang membuat lingkungan <em>sattvik<\/em> (murni secara spiritual) dan membimbing masyarakat menuju jalan kesadaran Tuhan YME yang merupakan tujuan hidup sebagai manusia.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<div class=\"bluebox\">\n<p style=\"text-align: justify\">Pada tabel di atas, angka yang diberikan di kolom 3 tentang tindakan membunuh <strong>tidaklah<\/strong> linear. Hal ini berarti bahwa setiap tindakan pembunuhan pada satu tingkat <strong>tidak<\/strong> menambah dosa secara linear. Misalnya, membunuh 10 ikan (5 hingga 7 unit dosa X 10) <strong>tidak<\/strong> berarti dosanya lebih besar daripada membunuh seorang seeker (sebesar 45-55 unit). Tujuan tabel ini adalah untuk memahami beratnya dosa atau kualitas dan <strong>bukan jumlah\/kuantitas<\/strong>.<\/p>\n<\/div>\n<p>Catatan<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">Ketika tanaman atau hewan mati, mereka punya kesempatan untuk berevolusi menjadi spesies yang lebih tinggi. Ini merupakan proses alami evolusi.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Seluruh tabel ini adalah tentang dosa yang ditimbulkan oleh manusia karena membunuh makhluk hidup lainnya, hewan liar seperti harimau atau ular tidak menimbulkan dosa jika membunuh manusia sebab mereka tidak memiliki kemampuan untuk membedakan siapa yang mereka bunuh dan biasanya mereka membunuh karena lapar dan untuk melindungi diri.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Dalam kasus membunuh sapi India atau hewan lainnya, orang yang membunuhnya menimbulkan 50% dari dosa dan 50% lainnya bagi orang yang memakannya. 50% dosa orang yang memakan hewan tidak terbagi antara orang-orang yang mengambil bagian dari daging hewan itu. Tetapi setiap orang yang memakan daging tersebut menimbulkan dosa yang setara 50% dari keseluruhan dosa membunuh seekor hewan.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Penting untuk diingat bahwa dalam kasus seperti ini, pahala tidak membatalkan dosa dan akibat yang ditakdirkan dari pahala dan dosa harus dialami oleh orang yang membunuh. Dosa yang didapatkan dari tindakan membunuh bisa menjadi rendah jika tujuannya untuk mempertahankan diri atau melindungi orang lain.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Orang biasa mengacu pada manusia di tingkat kesadaran spiritual 20%.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Proporsi prinsip Ilahi lebih sedikit pada orang yang melakukan bunuh diri. Hal ini karena depresi berat yang berlangsung lama maka tingkat kesadaran spiritual seseorang berkurang. Seseorang yang tingkat kesadaran spiritualnya tinggi tidak mempertimbangkan bunuh diri. Dosa dapat bervariasi tergantung dari alasan bunuh diri. Lihat artikel tentang <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-setelah-kematian\/kehidupan-setelah-kematian\/\">\u201cKehidupan Setelah Kematian\u201d<\/a>. Bunuh diri menimbulkan dosa 30% dibandingkan dengan membunuh seseorang pada tingkat kesadaran spiritual rata-rata.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Jika makhluk hidup memiliki Prinsip Ilahi 30% atau lebih daripada mereka yang melakukan kontak dengan orang atau hewan seperti itu, mereka mendapat manfaat dari Prinsip Ilahi yang dipancarkan dari orang atau hewan tersebut. Prinsip Ilahi ada lebih dari 30% hanya pada sapi India, seeker, dan Orang Suci. Oleh karena itu siapapun yang melakukan kontak dengan mereka akan mendapatkan manfaat dari Prinsip Ilahi yang terpancar dari mereka. Maka dosa maksimum dikenakan bagi orang yang membunuh mereka.<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-8214 size-full\" src=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152015\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif\" alt=\"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual\" width=\"775\" height=\"720\" \/><\/p>\n<h3><span id=\"31_Beberapa_petunjuk_tentang_bagaimana_niat_pembunuhan_dapat_mempengaruhi_dosa_yang_diterima\">3.1 Beberapa petunjuk tentang bagaimana niat pembunuhan dapat mempengaruhi dosa yang diterima<strong>\u00a0<\/strong><\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\">Seperti yang disebutkan sebelumnya, niat dibalik pembunuhan memegang bobot 70% ketika menentukan beratnya dosa yang ditimbulkan. Pada tabel berikut kami menunjukkan beberapa contoh yang berkaitan dengan hal ini.<\/p>\n<table class=\"tablestyle\">\n<tbody>\n<tr>\n<th style=\"width: 96px\"><strong>Niat dari membunuh manusia<\/strong><\/th>\n<th style=\"width: 101px\"><strong>Proporsi dosa yang ditimbulkan (70% berasal dari niat pembunuhan)<\/strong><\/th>\n<th style=\"width: 355px\"><strong>Komentar <\/strong><\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 96px;text-align: justify\">Tidak sengaja membunuh<\/td>\n<td style=\"text-align: center;width: 101px\">0<\/td>\n<td style=\"text-align: justify;width: 355px\">Misalnya kecelakaan lalu lintas. Dosa hanya ditimbulkan dari tindakan membunuh yaitu sebesar 30%.<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"text-align: justify\">\n<td style=\"width: 96px;text-align: justify\">Untuk mencegah penderitaan diri sendiri atau untuk mencegah diri terbunuh<\/td>\n<td style=\"text-align: center;width: 101px\">30<\/td>\n<td style=\"width: 355px\">\n<p style=\"text-align: justify\">Pada kasus ini dosa yang dihasilkan akan lebih sedikit jika seseorang memilih untuk meninggalkan tempat kejadian, menyakiti orang itu sedikit, dll daripada membunuh penyerangnya. Di sisi lain, pahala juga didapat karena menyelamatkan masyarakat dari orang jahat. Lihat tabel di atas. Proporsi dosa dapat bervariasi bergantung dari siapa yang membunuh siapa.<\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"text-align: justify\">\n<td style=\"text-align: left;width: 96px\">Biasa<\/td>\n<td style=\"text-align: center;width: 101px\">50<\/td>\n<td style=\"width: 355px;text-align: justify\">Hal ini termasuk pembunuhan biasa seperti pencuri yang membunuh ketika melarikan diri. Ini tidak menimbulkan dosa maksimum karena impresi yang kuat tidak terbentuk dalam pikiran.<\/td>\n<\/tr>\n<tr style=\"text-align: justify\">\n<td style=\"width: 96px;text-align: justify\">Membunuh demi kesenangan jahat<\/td>\n<td style=\"text-align: center;width: 101px\">70<\/td>\n<td style=\"width: 355px;text-align: justify\">Contohnya memperkosa perempuan kemudian membunuhnya. Menyiksa orang ketika membunuh.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 96px;text-align: justify\">Secara tidak perlu menganggap orang lain sebagai musuh<\/td>\n<td style=\"text-align: center;width: 101px\">70<\/td>\n<td style=\"text-align: justify;width: 355px\">Pemikiran kebencian dan balas dendam yang mendalam sebagai alasan untuk membunuh menyebabkan lebih banyak dosa karena terdapat impresi yang lebih besar di pikiran bawah sadar yang dapat menetap selama banyak kelahiran berikutnya.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika seseorang dirasuki oleh energi negatif dan melakukan kejahatan seperti membunuh orang lain atau hewan, dosa yang ditimbulkan dari tindakan tersebut tergantung dari siapa yang bertanggung jawab atas pemikiran dibalik tindakan tersebut; apakah karena energi negatif yang merasuki atau orangnya atau keduanya? Dengan demikian, dosa yang ditimbulkan akan dibagi sepadan dengan kesadaran yang berkontribusi pada peristiwa tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bagaimana jika kesadaran orang yang dirasuki sepenuhnya diambil alih oleh energi negatif dan karenanya melakukan tindakan pembunuhan tanpa sepengetahuan atau kendalinya? Dalam kasus seperti ini energi negatif akan menanggung proporsi dosa yang besar. Namun bagi orang yang dirasuki dan yang tubuhnya telah digunakan untuk melakukan kejahatan, mereka akan menanggung 10 hingga 30% dari dosa. Alasannya adalah karena mereka membiarkan diri mereka dirasuki dan digunakan oleh energi negatif karena kurangnya latihan spiritual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Alasan di atas serupa dengan bagaimana seseorang yang mengalami gangguan mental atau sakit jiwa tidak diberikan hukuman yang sama dibandingkan dengan orang normal jika mereka melakukan jenis kejahatan yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika situasi yang sama (kehilangan kendali total) melibatkan seorang seeker (yang dirasuki dan yang melakukan upaya tulus untuk pertumbuhan spiritual), persentase dosa yang ditimbulkan oleh seeker tersebut menjadi minimal.<\/p>\n<h3><span id=\"32_Metode_membunuh_dapat_mempengaruhi_dosa\">3.2 Metode membunuh dapat mempengaruhi dosa<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\">Seperti yang disebutkan sebelumnya, niat memegang kepentingan 70%, sedangkan metode atau cara membunuh memegang kepentingan 30%.<\/p>\n<table class=\"tablestyle\">\n<tbody>\n<tr>\n<th><strong>Metode membunuh<\/strong><\/th>\n<th><strong>Proporsi dari dosa yang ditanggung (dari 30%)<\/strong><\/th>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: left\">Membunuh dengan sekali serang, misalnya membunuh dengan senjata<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">10<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: left\">Membunuh dengan penyiksaan<\/td>\n<td style=\"text-align: center\">30<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Orang yang membunuh menambah berat penuh dosa dari tindakan membunuh jika orang atau hewan disiksa ketika dibunuh.<\/p>\n<h2><span id=\"4_Beberapa_poin_ringkasan_utama_berkaitan_dengan_pembunuhan_dan_dosa\">4. Beberapa poin ringkasan utama berkaitan dengan pembunuhan dan dosa<\/span><\/h2>\n<div class=\"yellow-wrapper-right yn\"><span class=\"clip\"><\/span>Menurut seorang Saint yang sudah maju, Adi Shankaracharya dari India (abad ke-8 \u2013 9 M), Kebenaran (Dharma) adalah yang menyelesaikan 3 tugas:<\/br>\r\n1. Menjaga sistem sosial dalam kondisi prima<\/br>\r\n2. Membawa kemajuan duniawi setiap makhluk hidup<\/br>\r\n3. Menyebabkan kemajuan dalam dunia spiritual juga.<\/br>\r\n\u2013 Shri Adi Shankaracharya<\/div>\n<ul style=\"list-style-type: disc\">\n<li style=\"text-align: justify\">Sebagai manusia kita mungkin merupakan spesies yang paling berevolusi dan kuat di Bumi, tetapi hal ini juga mendatangkan tanggung jawab terhadap semua makhluk hidup.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Pembunuhan yang tidak diperlukan terhadap makhluk hidup lainnya mendatangkan hukuman dosa besar yang harus dibayar seseorang di tingkat karma baik di kehidupan saat ini ataupun di kehidupan berikutnya.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Jika seseorang tidak sadar bahwa makan daging itu dosa, maka ia menimbulkan lebih sedikit dosa, kurang lebih 50% lebih sedikit.<\/li>\n<li>Dorongan untuk makan daging bukanlah sebuah argumen yang dapat dipertahankan untuk tidak menanggung dosa dari membunuh sapi atau hewan lainnya terutama jika ada makanan alternatif seperti makanan vegetarian.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Pembantaian manusiawi atau pembunuhan beradad terhadap hewan, apapun argumennya, pada akhirnya tidak mencerminkan hal yang penting bagi hewan yang dibunuh, yang diberi kesempatan untuk hidup normal.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Ketika ras manusia melaksanakan kehidupan mereka sesuai dengan Kebenaran (Dharma), maka kedamaian dan kemakmuran terjamin.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">Menjalani latihan spiritual secara teratur membantu membuat pikiran dan kecerdasan kita lebih murni secara rohani sehingga kita dapat membuat keputusan yang lebih baik untuk diri kita sendiri dan kesejahteraan masyarakat. Chanting (mengucapkan berulang-ulang) Nama Tuhan YME adalah cara termudah untuk mengatasi dosa yang ditimbulkan karena pembunuhan tanaman dan mikroorganisme di kehidupan kita sehari-hari. Pada tingkat kesadaran spiritual 60% dan selebihnya, seseorang memiliki persekutuan yang lebih baik dengan Tuhan YME. Di atas tingkat kesadaran spiritual ini, chanting terus berlangsung (pada tingkat non-verbal) sepanjang hari dalam pikiran bawah sadar. Chanting di tingkat lanjutan seperti ini secara otomatis membebaskan kita dari dosa kecil yang ditimbulkan dengan membunuh berbagai makhluk hidup seperti tumbuhan dan serangga sepanjang hari.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini menjelaskan secara detail mengenai dosa yang ditimbulkan dari tindakan pembunuhan terhadap berbagai makhluk hidup.<\/p>\n","protected":false},"featured_media":0,"parent":7286,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[501,495,216,498,148,494,497,499,90,119,496,133,391,336,500],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual - SSRF Indonesian<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"17 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/\",\"name\":\"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual - SSRF Indonesian\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif\",\"datePublished\":\"2018-07-28T18:01:11+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-17T04:42:38+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152015\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif\",\"contentUrl\":\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152015\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif\",\"width\":775,\"height\":720},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penelitian Spiritual\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Permasalahan Sosial\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\",\"name\":\"SSRF Indonesian\",\"description\":\"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual - SSRF Indonesian","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"17 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/","name":"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual - SSRF Indonesian","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif","datePublished":"2018-07-28T18:01:11+00:00","dateModified":"2024-08-17T04:42:38+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#primaryimage","url":"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152015\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif","contentUrl":"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152015\/2-IND_Severity-of-sin-from-killing.gif","width":775,"height":720},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/apakah-membunuh-dosa\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penelitian Spiritual","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Permasalahan Sosial","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/permasalahan-sosial\/"},{"@type":"ListItem","position":4,"name":"Apakah membunuh itu dosa \u2013 Sebuah sudut pandang spiritual"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/","name":"SSRF Indonesian","description":"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false,"post-thumbnail":false},"uagb_author_info":{"display_name":"Abhijeet","author_link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/author\/abhik031982\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Artikel ini menjelaskan secara detail mengenai dosa yang ditimbulkan dari tindakan pembunuhan terhadap berbagai makhluk hidup.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8079"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8079"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8079\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16136,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/8079\/revisions\/16136"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/7286"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}