{"id":7850,"date":"2018-07-07T08:52:00","date_gmt":"2018-07-07T08:52:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?page_id=7850"},"modified":"2018-07-07T08:53:40","modified_gmt":"2018-07-07T08:53:40","slug":"komentar-keterbatasan","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/","title":{"rendered":"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;background: white\"><span lang=\"IN\" style=\"font-family: 'Arial','sans-serif';color: black\">Peneliti Utama: Dr. Nandini Samant, MBBS, DPM<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-8026 size-full\" src=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP.jpg\" alt=\"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern\" width=\"720\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP.jpg 720w, https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP-300x83.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/p>\n<div id=\"toc_container\" class=\"no_bullets\"><p class=\"toc_title\">Daftar isi<\/p><ul class=\"toc_list\"><li><a href=\"#1_Pendahuluan\">1. Pendahuluan<\/a><\/li><li><a href=\"#2_Komentar_Departemen_Pengetahuan_Halus\">2. Komentar Departemen Pengetahuan Halus<\/a><ul><li><a href=\"#21_Hanyalah_seseorang_yang_sudah_berevolusi_secara_spiritual_yang_dapat_memahami_alasan_yang_mendasari_suatu_pembacaan_tertentu\">2.1 Hanyalah seseorang yang sudah berevolusi secara spiritual yang dapat memahami alasan yang mendasari suatu pembacaan tertentu<\/a><\/li><li><a href=\"#22_Ketidakmampuan_peralatan_modern_untuk_merekam_pembacaan_dari_waktu_ke_waktu\">2.2 Ketidakmampuan peralatan modern untuk merekam pembacaan dari waktu ke waktu<\/a><\/li><\/ul><\/li><li><a href=\"#3_Komentar_YM_Dr_Athavale\">3. Komentar Y.M. Dr. Athavale<\/a><\/li><\/ul><\/div>\n<h2><span id=\"1_Pendahuluan\">1. Pendahuluan<\/span><\/h2>\n<p>Selama kami melakukan penelitian spiritual menggunakan peralatan modern, kami menemukan bahwa peran peralatan itu sendiri sebagai alat penelitian bersifat terbatas. Misalnya, dalam percobaan untuk menguji pengaruh <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/hidup-spiritual\/efek-kesehatan-spiritual-dari-makanan-dan-minuman\/pola-makan-vegetarian-dibandingkan-bukan-vegetarian\/\">makanan non vegetarian dan vegetarian<\/a> pada <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/kundalini-chakras\/cakra-tubuh-kundalini\/\"><em>chakra Kundalini\u00a0(Kun\u1e0dalin\u012b)<\/em> (pusat energi spiritual)<\/a> dari para pencari Tuhan YME (seeker) dengan gangguan (distress) dan tanpa gangguan energi negatif, kami menemukan bahwa 80% dari subyek tanpa gangguan energi negatif dan 100% dari subyek dengan gangguan energi negatif menunjukkan sebuah peningkatan dalam aktivitas <em>chakra<\/em> mereka setelah mengkonsumsi makanan non-vegetarian.<\/p>\n<p>Menariknya, masukan dari departemen pengetahuan halus SSRF dengan menggunakan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/indra-keenam-intuisi\">indra keenam<\/a> yang maju menunjukkan bahwa alasan untuk peningkatan aktivitas chakra pada kedua kategori seeker tersebut sangatlah berbeda.<\/p>\n<p>Dalam kasus para seeker tanpa gangguan energi negatif, meningkatnya aktivitas chakr\u0101 adalah karena chakra diaktifkan dalam kesiapsiagaan untuk melawan vibrasi mengganggu yang berasal dari makanan non-vegetarian.<\/p>\n<p>Sebaliknya, dalam kasus para seeker dengan gangguan energi negatif, pusat energi negatif yang diciptakan oleh <u>para penyihir halus (<em>mantrik,\u00a0m\u0101ntrik<\/em>)<\/u> di chakra bagian atas teraktifkan agar siap menyerap <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/alam-semesta\/komponen-dasar-terbentuknya-alam-semesta\/\">komponen dasar halus <em>Tama <\/em><\/a>\u00a0dalam makanan non-vegetarian.<\/p>\n<h2><span id=\"2_Komentar_Departemen_Pengetahuan_Halus\">2. Komentar Departemen Pengetahuan Halus<\/span><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-8024 size-full\" src=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152020\/2-IND_Angalee-Gadgil.jpg\" alt=\"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern\" width=\"200\" height=\"230\" \/>Departemen pengetahuan halus kami melakukan analisis halus terhadap hasil pembacaan dari semua eksperimen. Analisis halus mereka menunjukkan bahwa kadang-kadang, seperti pada contoh yang dijelaskan di atas, alasan mendasar untuk dua pembacaan serupa yang diberikan oleh peralatan modern tersebut sangat berlawanan. Namun, dunia ilmiah modern mengakui pembacaan yang sama sebagai peristiwa serupa. Dari perspektif ini, departemen pengetahuan halus menjelaskan keterbatasan peralatan ilmiah dalam penelitian dan peranannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat diagnostik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><span id=\"21_Hanyalah_seseorang_yang_sudah_berevolusi_secara_spiritual_yang_dapat_memahami_alasan_yang_mendasari_suatu_pembacaan_tertentu\">2.1 Hanyalah seseorang yang sudah berevolusi secara spiritual yang dapat memahami alasan yang mendasari suatu pembacaan tertentu<\/span><\/h3>\n<p>Peralatan dapat memberikan informasi yang akurat sekitar 30% dan membantu kita menarik kesimpulan hanya di tingkat permukaan, misalnya, bahwa <em>chakra<\/em> tidak aktif. Namun, alasan yang mendasari ketidakaktifan chakra hanya bisa diketahui oleh orang yang sudah maju secara spiritual.<\/p>\n<p>Mengambil keputusan hanya berdasarkan pembacaan yang diberikan oleh peralatan sama dengan merawat penyakit seseorang di tingkat simtomatik (gejala) tanpa mempertimbangkan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/akar-penyebab-masalah-spiritual\">akar penyebab penyakit<\/a> yang sangat penting. Jika kita bisa menentukan akar permasalahan dari masalah yang ada, maka kita bisa menerapkan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/terapi-spiritual\/\">terapi<\/a> yang sesuai dan menghilangkan keseluruhan masalah. Jika kita menemukan akar penyebab dengan menggunakan informasi yang tersedia dengan bantuan peralatan, dan analisis halus, kita dapat menerapkan solusi di tingkat yang sesuai sehingga akar penyebab spiritual dapat dilenyapkan secara tuntas. Ilmu pengetahuan spiritual menentukan terapi yang memiliki kemampuan untuk menarik kesadaran Ilahi (<em>Chaitanya<\/em>) terhadap pasien. Kesadaran Ilahi ini efektif bekerja pada akar penyebab spiritual dari masalah. Dengan demikian, akhirnya hanya sains Spiritualitas yang bisa memberikan pengobatan yang 100% efektif, untuk semua permasalahan. Sebaliknya, jelas bahwa jika kesimpulan hanya diambil pada tingkat permukaan dengan mengandalkan pengetahuan modern saja, terbukti menyesatkan dan tidak begitu berarti.<\/p>\n<h3><span id=\"22_Ketidakmampuan_peralatan_modern_untuk_merekam_pembacaan_dari_waktu_ke_waktu\">2.2 Ketidakmampuan peralatan modern untuk merekam pembacaan dari waktu ke waktu<\/span><\/h3>\n<p>Karena keseluruhan <em>sattvikta<\/em> dalam masyarakat meningkat karena usaha dari seorang pencari Tuhan YME (seeker) yang secara aktif melakukan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/aboutspiritualresearch\/spiritualpractice\/individualcollective\">latihan spiritual untuk penyebaran Spiritualitas<\/a> <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/aboutspiritualresearch\/spiritualpractice\/individualcollective\">(<em>samashti<\/em> <em>sadhana,\u00a0samash\u1e6di s\u0101dhan\u0101<\/em>),<\/a> energi negatif (hantu, setan, iblis dll.) di lingkungan sangat terpengaruh. Itulah sebabnya untuk melindungi diri mereka sendiri, <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/Indonesian\/hantu\/\">energi negatif (hantu, setan, iblis dll)<\/a> melawan seeker tersebut dengan menyerangnya terus-menerus dengan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/alam-semesta\/komponen-dasar-terbentuknya-alam-semesta\/\"><em>Raja<\/em>&#8211;<em>Tama<\/em><\/a>. Akibatnya, tubuhnya menjadi seperti sebuah medan perang. Tubuh fisik, pikiran dan inteleknya dapat terpengaruh dalam berbagai bentuk setiap saat. Untuk bisa membantunya, idealnya kami harus memperhatikan sifat spesifik dari serangan dan akibatnya tepat pada saat itu terjadi. Untuk itu, penting agar pembacaan oleh peralatan dilakukan terus menerus. Kemudian terapi harus diberikan sesuai dengan masalah yang terjadi pada saat itu. Hal ini tidak mungkin dilakukan karena sulit untuk melakukan pembacaan dengan peralatan apapun mengingat fluktuasi yang terjadi setiap detiknya. Akibatnya, kemampuan untuk menentukan masalah spesifik tepat pada saat itu sangat terhambat, sehingga membuat kemungkinan untuk menemukan terapi dan solusi yang tepat sangat rendah. Inilah keterbatasan pengetahuan modern.<\/p>\n<p>Sebaliknya, sains spiritual itu lengkap di dalam dan dari sains itu sendiri. Jika seseorang melakukan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/latihan-spiritual\">latihan spiritual<\/a> secara terus-menerus, <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/kundalini-chakras\/\">energi spiritual<\/a> yang diperoleh dari latihan spiritual berlaku sebagai terapi penyembuhan spiritual yang berlangsung terus-menerus. Ini membantunya menghadapi dan mengatasi masalah yang dihadapi dari waktu ke waktu. Dengan demikian, tidak ada alternatif lain selain melakukan latihan spiritual sesuai dengan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/prinsip-prinsip-spiritual\/\">enam prinsip dasar latihan spiritual<\/a>, karena kesadaran Ilahi yang diperoleh dari latihan spiritual terus-menerus melindunginya dari serangan <em>Raja<\/em>&#8211;<em>Tama<\/em>.<\/p>\n<h2><span id=\"3_Komentar_YM_Dr_Athavale\">3. Komentar Y.M. Dr. Athavale<\/span><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-8025 size-full\" src=\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152020\/3-IND_Dr-Atavle.jpg\" alt=\"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern\" width=\"183\" height=\"234\" \/><\/p>\n<p>Ada banyak jenis peralatan yang tersedia yang bisa mendeteksi penyebab dibalik penyakit fisik dan mental. Misalnya, USG perut dilakukan pada orang yang sakit perut parah bisa mengungkap sebuah batu ginjal dan dengan demikian berkontribusi terhadap keputusan pengobatan. Namun, peralatan tersebut hanya bisa memberi informasi tentang penyakit dan temuan permukaannya. Alasan spiritual dibalik setiap penyakit, misalnya, gangguan yang diakibatkan oleh energi negatif tingkat tinggi, takdir, dan lain-lain, tidak dapat diungkapkan oleh peralatan tersebut. Hanya setelah melakukan latihan spiritual dan mendapatkan pengetahuan tentang <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-setelah-kematian\/kehidupan-setelah-kematian\/\">wilayah hingga wilayah Neraka ketujuh <em>(Patal, P\u0101t\u0101l),<\/em><\/a> baru kita dapat mengetahui semua alasannya. Oleh karena itu, melakukan latihan spiritual merupakan satu-satunya terapi untuk penyakit apapun!<\/p>\n<p>Daripada melakukan latihan spiritual secara sementara hanya sebagai terapi penyembuhan spiritual dengan satu-satunya niat untuk mengatasi penyebab spiritual dari suatu masalah, jauh lebih bijaksana untuk menanamkan kebiasaan latihan spiritual secara terus menerus. Jika kita melakukannya, kemungkinan munculnya masalah bisa dilewati atau intensitasnya bisa mereda atau berkurang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini memberikan tanggapan mengenai peralatan yang digunakan dalam sebuah penelitian.<\/p>\n","protected":false},"featured_media":0,"parent":1102,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[163,479,428,119],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern - SSRF Indonesian<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/\",\"name\":\"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern - SSRF Indonesian\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/1-IND_Commantary-LP.jpg\",\"datePublished\":\"2018-07-07T08:52:00+00:00\",\"dateModified\":\"2018-07-07T08:53:40+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP.jpg\",\"width\":720,\"height\":200},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Metodologi penelitian\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\",\"name\":\"SSRF Indonesian\",\"description\":\"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern - SSRF Indonesian","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/","name":"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern - SSRF Indonesian","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/1-IND_Commantary-LP.jpg","datePublished":"2018-07-07T08:52:00+00:00","dateModified":"2018-07-07T08:53:40+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#primaryimage","url":"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP.jpg","contentUrl":"https:\/\/media.spiritualresearchfoundation.org\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2018\/07\/18152019\/1-IND_Commantary-LP.jpg","width":720,"height":200},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/komentar-keterbatasan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Metodologi penelitian","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/metodologi-penelitian\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Komentar mengenai keterbatasan peralatan yang digunakan dalam penelitian modern"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/","name":"SSRF Indonesian","description":"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false,"post-thumbnail":false},"uagb_author_info":{"display_name":"","author_link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/author\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Artikel ini memberikan tanggapan mengenai peralatan yang digunakan dalam sebuah penelitian.","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/7850"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/users\/39999"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7850"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/7850\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8033,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/7850\/revisions\/8033"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1102"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}