{"id":277,"date":"2012-07-12T00:00:00","date_gmt":"2012-07-12T00:00:00","guid":{"rendered":"http:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian1\/penelitian-riset-spiritual-tentang-umur-alam-semesta-dan-siklus-siklus-nya\/"},"modified":"2024-06-25T19:08:47","modified_gmt":"2024-06-25T19:08:47","slug":"penciptaan-alam-semesta","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/","title":{"rendered":"Sejarah Penciptaan Alam Semesta"},"content":{"rendered":"<div id=\"toc_container\" class=\"no_bullets\"><p class=\"toc_title\">Daftar isi<\/p><ul class=\"toc_list\"><li><a href=\"#1_Pendahuluan\">1. Pendahuluan<\/a><\/li><li><a href=\"#2_Definisi_Alam_Semesta\">2. Definisi Alam Semesta<\/a><\/li><li><a href=\"#3_Sejarahwaktu_umur_penciptaan_Alam_Semesta\">3. Sejarah\u00a0waktu &amp; umur penciptaan Alam Semesta<\/a><\/li><li><a href=\"#4_Siklus-siklus_utama_penciptaan_danpeleburanAlam_Semesta\">4. Siklus-siklus utama penciptaan dan\u00a0peleburan\u00a0Alam Semesta<\/a><ul><li><a href=\"#41_Penghancuran_atau_peleburan_disolusi_Alam_Semesta\">4.1 Penghancuran atau peleburan (disolusi) Alam Semesta<\/a><ul><li><a href=\"#411_Pralay_setiap_432_miliar_tahun\">4.1.1 Pralay (setiap 4.32 miliar tahun)<\/a><\/li><li><a href=\"#412_Mahapralay_setiap_432_miliar_tahun\">4.1.2 Mahapralay (setiap 432 miliar tahun)<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/li><li><a href=\"#5_Perbedaan_pandangan_tentang_umur_penciptaan_Alam_Semesta_antara_ilmu_pengetahuan_spiritualdansains_modern\">5. Perbedaan pandangan tentang umur penciptaan Alam Semesta antara ilmu pengetahuan spiritual\u00a0dan\u00a0sains modern<\/a><\/li><li><a href=\"#6_Poin-poin_tentang_sejarah_penciptaan_Alam_Semesta_dan_Umat_Manusia\">6. Poin-poin tentang sejarah penciptaan Alam Semesta dan Umat Manusia<\/a><\/li><\/ul><\/div>\n<h2><span id=\"1_Pendahuluan\">1. <strong>Pendahuluan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Dalam beberapa artikel, kami telah membuat referensi tentang usia Alam Semesta dan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/latihan-spiritual-zaman\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">keempat Era-nya<\/a> yaitu <em>Satyayug<\/em>,<em> Tret\u0101yug<\/em>,<em> Dw\u0101paryug<\/em> dan<em> Kaliyug<\/em>. Kami telah menerima pertanyaan-pertanyaan dari pembaca yang menanyakan apa yang kami definisikan sebagai Alam Semesta dan bagaimana kami mencocokkan umur\u00a0Alam Semesta dengan pandangan ilmu pengetahuan modern. Artikel ini merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, di mana kami menjelaskan sejarah waktu penciptaan\u00a0Alam Semesta dan berapa umur Alam Semesta menurut Pengetahuan Ilahi yang diterima melalui <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/tentang-penelitian-spiritual\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">penelitian spiritual<\/a>.<\/p>\n<div class=\"bluebox\">\n<p><strong>Catatan dari tim redaksi<\/strong>: Sebagai kebijakan, SSRF menerbitkan artikel-artikel yang lebih praktikal sehingga orang-orang dapat belajar darinya dan memperbaiki kehidupan mereka. Memahami penciptaan Alam Semesta, lebih banyak bersifat\u00a0teoritis serta memiliki sedikit atau bahkan tidak ada nilai praktikalnya dalam perjalanan spiritual kita. Oleh karena itu, silakan mempertimbangkan artikel ini hanya sebagai suplemen untuk artikel-artikel lainnya dimana Alam Semesta telah kami sebutkan. Di sini kami telah berbagi hanya beberapa poin relevan yang\u00a0berkaitan dengan topik tersebut, untuk menghilangkan ambiguitas dalam artikel-artikel lainnya yang memberi acuan\u00a0tentang Alam Semesta.<\/p>\n<\/div>\n<h2><span id=\"2_Definisi_Alam_Semesta\">2. <strong>Definisi Alam Semesta<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Pada tahap awal, mari kita mendefinisikan apa yang dimaksud SSRF sebagai Alam Semesta. SSRF mendefinisikan Alam Semesta sebagai keseluruhan dunia baik yang terlihat\u00a0maupun yang\u00a0tak terlihat (tak kasat mata). Ini berarti mencakup Bumi beserta dengan tata surya, semua rasi bintang dan galaksi-galaksi yang kita lihat di langit. Namun\u00a0hal tersebut pun\u00a0hanya merupakan sebagian kecil dari Alam Semesta. Bersamaan\u00a0dengan hal tersebut,\u00a0ketujuh alam eksistensi halus negatif dan keenam alam eksistensi halus positif juga termasuk dalam Alam Semesta, seperti yang dibahas dalam artikel kami <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/alam-setelah-kematian\/kehidupan-setelah-kematian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">apa yang terjadi setelah kematian<\/a>.<\/p>\n<h2><span id=\"3_Sejarahwaktu_umur_penciptaan_Alam_Semesta\">3. Sejarah<strong>\u00a0waktu &amp; umur penciptaan Alam Semesta<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Untuk memahami bagian ini,\u00a0terdapat hukum dasar spiritual atas segala\u00a0ciptaan di Alam Semesta yang harus\u00a0kita pelajari terlebih dahulu. Segala sesuatu di Alam Semesta termasuk Alam Semesta itu sendiri, pertama-tama diciptakan, kemudian dipelihara\/dipertahankan untuk suatu periode waktu tertentu, dan akhirnya dihancurkan. Penciptaan, pemeliharaan dan peleburan (disolusi) Alam Semesta dan unsur-unsurnya adalah siklus\u00a0tanpa akhir yang telah berlangsung sejak awal waktu.<\/p>\n<p>Melalui penelitian spiritual, kami telah menemukan bahwa sepanjang sejarahnya Alam Semesta telah melalui banyak siklus\u00a0penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. Penghancuran parsial\/sebagian Alam Semesta dikenal sebagai <em>pralay<\/em> dan kami akan menjelaskan hal ini dengan lebih rinci dalam bagian-bagian di bawah ini.<\/p>\n<p>Setelah penciptaan Alam Semesta dan sebelum penghancurannya\u00a0(atau selama waktu Alam Semesta dipelihara), ia berjalan melalui banyak siklus. Yang\u00a0terkecil dari siklus ini (juga dikenal sebagai <em>paryay<\/em>) memiliki 4 Era, yakni <em>Satyayug<\/em>,<em> Tret\u0101yug<\/em>,<em> Dw\u0101paryug<\/em> dan<em> Kaliyug<\/em>.<\/p>\n<p>Melalui penelitian spiritual, kami telah menemukan bahwa berikut ini\u00a0merupakan jumlah tahun dari masing-masing era\u00a0yang telah disebutkan di atas,\u00a0dalam siklus yang berlangsung selama periode waktu tertentu:<\/p>\n<div class=\"pcenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" style=\"width: 306px;height: 255px\" src=\"\/userfiles\/image\/009 Indonesian\/age of the universe\/IND-Eras-of-time.gif\" alt=\"Sejarah waktu era Alam Semesta\" width=\"306\" height=\"255\" \/><\/div>\n<p>Pada siklus saat ini (<em>paryay<\/em>) di tahun 2017, kita\u00a0kurang lebih\u00a0berada 5119 tahun di\u00a0dalam era <em>Kaliyug<\/em> (diterjemahkan sebagai Era Perselisihan). Oleh sebab itu, semenjak siklus saat ini (<em>paryay<\/em>) dimulai, kita telah melintasi kira-kira 3,8 juta tahun lebih dan kita masih memiliki lebih dari 420.000 tahun lagi. Pada akhir <em>Kaliyug<\/em>, terjadi peleburan mini\/kecil sebelum <em>Satyayug<\/em> dimulai lagi. Peleburan mini pada umumnya adalah tentang kehancuran seperti perang, bencana alam, korban jiwa, dll. Tingkat kehancurannya relatif kecil jika dibandingkan dengan disolusi\/peleburan Alam Semesta yang dikenal sebagai <em>pralay.<\/em><\/p>\n<p>Salah satu perbedaan kunci dalam era-era tersebut adalah tingkat <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/spiritualresearch\/spiritualscience\/sattva_raja_tama\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>s\u0101ttvikt\u0101<\/em><\/a> dalam masyarakat dan tingkatan spiritual rata-rata manusia. Tabel berikut menunjukkan mode tingkatan spiritual umat manusia di setiap Era dalam satu siklus.<\/p>\n<div class=\"pcenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" style=\"width: 370px;height: 312px\" src=\"\/userfiles\/image\/009 Indonesian\/age of the universe\/IND-Spiritual-Level-and-Eras.gif\" alt=\"Sejarah spiritual era Alam Semesta\" width=\"370\" height=\"312\" \/><\/div>\n<div class=\"pcenter\">\n<table class=\"tablestyle\" style=\"width: 30%\">\n<thead>\n<tr>\n<th><strong>Era<\/strong><\/th>\n<th><strong>Rata-rata tingkat kesadaran\u00a0spiritual<\/strong><\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>Satyayug<\/strong><\/td>\n<td>80%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Tr\u0113t\u0101yug<\/strong><\/td>\n<td>70%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Dw\u0101paryug<\/strong><\/td>\n<td>50%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Kaliyug<\/strong><\/td>\n<td>20%<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/div>\n<h2><span id=\"4_Siklus-siklus_utama_penciptaan_danpeleburanAlam_Semesta\">4. <strong>Siklus-siklus utama penciptaan dan\u00a0peleburan\u00a0Alam Semesta<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Berikut ini adalah siklus-siklus utama lainnya sepanjang sejarah Alam Semesta:<\/p>\n<div class=\"pcenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" style=\"width: 641px;height: 479px\" src=\"\/userfiles\/image\/009 Indonesian\/age of the universe\/IND-Other-cyles-of-time-of-the-Universe.gif\" alt=\"Siklus waktu sejarah penciptaan Alam Semesta\" width=\"641\" height=\"479\" \/><\/div>\n<h3><span id=\"41_Penghancuran_atau_peleburan_disolusi_Alam_Semesta\">4.1 <strong>Penghancuran atau peleburan (disolusi) Alam Semesta<\/strong><\/span><\/h3>\n<p>Berikut ini adalah jenis-jenis peleburan\/penghancuran yang terjadi di Alam Semesta secara periodik:<\/p>\n<h4><span id=\"411_Pralay_setiap_432_miliar_tahun\">4.1.1 <strong><em>Pralay<\/em> (setiap 4.32 miliar tahun<\/strong>)<\/span><\/h4>\n<ul>\n<li><em>Pralay <\/em>diterjemahkan sebagai peleburan Alam Semesta.<\/li>\n<li><strong>Apa yang dihancurkan? <\/strong>Ketika pralay berlangsung, maka alam Bumi (bersama dengan galaksi-galaksi, dsb.) (<em>Bhulok<\/em>), Dunia Nether (<em>Bhuvarlok<\/em>), ke-7 wilayah Neraka (<em>P\u0101t\u0101l<\/em>), dan Surga (<em>Swargalok<\/em>) dihancurkan.<\/li>\n<li><strong>Apakah yang tersisa? <\/strong>Namun, wilayah-wilayah halus positif yang lebih tinggi yakni\u00a0<em>Mah\u0101lok<\/em>, <em>Janalok<\/em>, <em>Tapalok<\/em> and <em>Satyalok<\/em> tetap tak berubah. Aspek-aspek Tuhan yang bertanggung jawab untuk Penciptaan (Brahma), Pemeliharaan (Wishnu) dan Peleburan \/ Penghancuran (Mahesh) tetap sama.<\/li>\n<li><strong>Kapankah\u00a0 itu terjadi? <\/strong>Hal ini terjadi sekali dalam setiap 4,32 miliar tahun, atau 1000 siklus (<em>paryay<\/em>), atau 1 hari (1 <em>kalpa<\/em>) dari Prinsip Penciptaan (Brahma).<\/li>\n<li>Setelah <em>pralay<\/em>, 4.320.000 tahun diperlukan untuk penciptaan menjadi\u00a0berwujud dan <em>Satyayug<\/em>\u00a0dimulai. Untuk ciptaan menjadi berwujud, beberapa waktu perlu untuk dilalui. Setelah peleburan, proses penciptaan dimulai dengan segera, namun\u00a0ciptaan itu hanya dapat terlihat dengan kasat mata setelah 4.320.000 tahun.<\/li>\n<\/ul>\n<h4><span id=\"412_Mahapralay_setiap_432_miliar_tahun\">4.1.2 <strong><em>Mahapralay<\/em> (setiap 432 miliar tahun<\/strong>)<\/span><\/h4>\n<ul>\n<li>Dalam setiap 100 hari dari Prinsip Penciptaan (432 miliar tahun) ada <em>mahapralay<\/em> (kira-kira diterjemahkan sebagai disolusi\/peleburan besar) yang terjadi.<\/li>\n<li>Dalam <em>mahapralay <\/em>ada peleburan seluruh Alam Semesta, yaitu 7 wilayah positif dan negatif dari Alam Semesta. Ada juga peleburan aspek Tuhan yang bertanggung jawab untuk Penciptaan (Brahma), Pemeliharaan (Wishnu) dan Peleburan\/Penghancuran (Mahesh).<\/li>\n<li>Hanya Prinsip Tuhan yang Maha Agung yang tetap tak berubah\u00a0dalam bentuk tak termanifestasi (<em>nirgu\u1e47<\/em>).<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span id=\"5_Perbedaan_pandangan_tentang_umur_penciptaan_Alam_Semesta_antara_ilmu_pengetahuan_spiritualdansains_modern\">5. <strong>Perbedaan pandangan tentang umur penciptaan Alam Semesta antara ilmu pengetahuan spiritual\u00a0dan\u00a0sains modern<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa umur penciptaan\u00a0Alam Semesta adalah\u00a0lebih dari 13 miliar tahun (<a href=\"http:\/\/wikipedia.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">wikipedia.com<\/a>). Alasan utama dalam perbedaan pandangan tentang umur penciptaan Alam Semesta antara ilmu pengetahuan modern dan Pengetahuan Ilahi yang diperoleh melalui penelitian spiritual adalah kurangnya kemampuan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/indra-keenam-intuisi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">indra keenam<\/a> (jika dibandingkan dengan <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/pencerahan-spiritual\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Orang-Orang Suci<\/a>) untuk memahami prinsip Penciptaan, Pemeliharaan, dan Penghancuran Alam Semesta.<\/p>\n<div class=\"pcenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" style=\"width: 751px;height: 142px\" src=\"\/userfiles\/image\/009 Indonesian\/age of the universe\/IND-Pande-Baba-and-Creation-of-Universe.gif\" alt=\"Pande Baba tentang Sejarah Penciptaan Alam Semesta\" width=\"751\" height=\"142\" \/><\/div>\n<h2><span id=\"6_Poin-poin_tentang_sejarah_penciptaan_Alam_Semesta_dan_Umat_Manusia\">6. P<strong>oin-poin tentang sejarah penciptaan Alam Semesta dan Umat Manusia<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>Berikut ini adalah beberapa poin penting lainnya tentang sejarah penciptaan Alam Semesta yang diperoleh melalui penelitian spiritual.<\/p>\n<p><strong>Q: <\/strong><strong>Berapa lama waktu yang diperlukan Bumi sejak penciptaan Alam Semesta untuk mencapai kondisi saat ini yang dapat dihuni oleh manusia<\/strong><strong>?<\/strong><\/p>\n<p><strong>A: <\/strong>Begitu Alam Semesta menjadi terlihat dengan mata fisik\u00a0ia terwujud secara keseluruhan dengan segera. Tidak ada periode gestasi\/persiapan sebelum Bumi menjadi layak huni dan <em>Satyayug<\/em> pun segera dimulai.<\/p>\n<p><strong>Q: <\/strong><strong>Kapankah manusia mulai\u00a0mendiami Bumi<\/strong><strong>?<\/strong><\/p>\n<p><strong><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone\" style=\"width: 204px;height: 241px;margin-right: 12px;margin-left: 12px;float: left\" src=\"\/userfiles\/image\/009 Indonesian\/age of the universe\/IND-Neanderthal-Man.jpg\" alt=\"Sejarah penciptaan manusia Neanderthal\" width=\"204\" height=\"241\" \/>A:<\/strong>\u00a0Manusia menghuni Bumi sejak awal dimulainya <em>Satyayug<\/em>. Mereka tidak berevolusi dari primata atau spesies lainnya seperti konsep populer yang dianut oleh ilmu pengetahuan modern. Misalnya, kita tidak berevolusi dari <em>Homo neanderthalensis<\/em> yang juga dikenal sebagai Manusia Neanderthal. Manusia Neanderthal adalah dari spesies yang berbeda.<\/p>\n<p>Perbedaan utama antara manusia di <em>Satyayu<\/em>g dan <em>Kaliyug <\/em>adalah perbedaan tingkat kesadaran spiritual rata-rata manusia yaitu, untuk\u00a0masing-masing era, 80% dan 20%. Karena <em>s\u0101ttvikt\u0101<\/em> di <em>Satyayug<\/em> lebih besar, laju penuaan saat itu jauh lebih lambat. Sebagai contoh orang-orang di <em>Satyayug<\/em> memiliki kehidupan yang sangat panjang (rata-rata 400 tahun), berpostur sangat tinggi, dsb. Namun, umur manusia di <em>Kaliyug<\/em> telah berkurang\u00a0(hanya 70-80 tahun),\u00a0 rata-rata\u00a0postur tubuh manusia\u00a0juga telah memendek. Setiap terdapat jumlah yang lebih besar komponen halus <em>Raja<\/em> dan <em>Tama<\/em> seperti dalam <em>Kaliyug<\/em>, tingkat penuaan dan kerusakan meningkat.<\/p>\n<p>Tabel berikut memberikan beberapa aspek lagi tentang keempat era.<\/p>\n<table class=\"tablestyle\">\n<thead>\n<tr>\n<th style=\"width: 40%\"><strong>Aspek<\/strong><\/th>\n<th style=\"width: 15%\"><em><strong>Satyayug<\/strong><\/em><\/th>\n<th style=\"width: 15%\"><em>Tr\u0113t\u0101yug<\/em><\/th>\n<th style=\"width: 15%\"><em>Dw\u0101paryug<\/em><\/th>\n<th style=\"width: 15%\"><em><strong>Kaliyug<\/strong><\/em><\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"width: 40%\"><strong>Persentase orang yang berkembang \/ berevolusi melebihi 70%<\/strong><\/td>\n<td style=\"width: 15%\">70%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">50%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">20%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">0.000001 \/ Dapat diabaikan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 40%\"><strong>Proporsi pahala dibanding\u00a0dosa<\/strong><\/td>\n<td style=\"width: 15%\"><\/td>\n<td style=\"width: 15%\"><\/td>\n<td style=\"width: 15%\"><\/td>\n<td style=\"width: 15%\"><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 40%\"><strong>Dosa<\/strong><\/td>\n<td style=\"width: 15%\">2%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">20%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">40%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">80%<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"width: 40%\"><strong>Pahala<\/strong><\/td>\n<td style=\"width: 15%\">98%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">80%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">60%<\/td>\n<td style=\"width: 15%\">20%<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Spesies seperti dinosaurus telah ada sebelumnya\u00a0dalam banyak siklus-siklus yang berbeda (<em>paryay<\/em>). Dalam siklus ini juga, mungkin mereka telah\u00a0eksis\u00a0hingga beberapa era seperti <em>Tret\u0101yug<\/em>, dan kemudian menjadi punah. Ini serupa dengan manusia yang tubuhnya lebih tinggi. <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/kundalini-chakras\/hakikat-manusia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tubuh-tubuh halus\/rohani<\/a>\u00a0menjelma sebagai manusia lagi dan lagi di sepanjang era, sampai mereka terbebas dari siklus kelahiran dan kematian dengan melakukan\u00a0latihan\u00a0spiritual. Demikian pula, hewan-hewan telah menjadi lebih kecil dalam era\u00a0<em>Kaliyug<\/em> dan beberapa spesies telah punah, namun\u00a0mereka akan muncul kembali pada siklus berikutnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daftar isi1. Pendahuluan2. Definisi Alam Semesta3. Sejarah\u00a0waktu &amp; umur penciptaan Alam Semesta4. Siklus-siklus utama penciptaan dan\u00a0peleburan\u00a0Alam Semesta4.1 Penghancuran atau peleburan (disolusi) Alam Semesta4.1.1 Pralay (setiap 4.32 miliar tahun)4.1.2 Mahapralay (setiap 432 miliar tahun)5. Perbedaan pandangan tentang umur penciptaan Alam Semesta antara ilmu pengetahuan spiritual\u00a0dan\u00a0sains modern6. Poin-poin tentang sejarah penciptaan Alam Semesta dan Umat Manusia 1. &hellip; <a href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/\" class=\"more-link\">Lanjutkan membaca <span class=\"screen-reader-text\">Sejarah Penciptaan Alam Semesta<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"featured_media":0,"parent":1277,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sejarah Penciptaan Alam Semesta - SSRF Indonesian<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/\",\"name\":\"Sejarah Penciptaan Alam Semesta - SSRF Indonesian\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\"},\"datePublished\":\"2012-07-12T00:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-06-25T19:08:47+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Penelitian Spiritual\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Alam Semesta\",\"item\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Sejarah Penciptaan Alam Semesta\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/\",\"name\":\"SSRF Indonesian\",\"description\":\"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Penciptaan Alam Semesta - SSRF Indonesian","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/","name":"Sejarah Penciptaan Alam Semesta - SSRF Indonesian","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website"},"datePublished":"2012-07-12T00:00:00+00:00","dateModified":"2024-06-25T19:08:47+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/penciptaan-alam-semesta\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Penelitian Spiritual","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/"},{"@type":"ListItem","position":3,"name":"Alam Semesta","item":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/penelitian-spiritual\/alam-semesta\/"},{"@type":"ListItem","position":4,"name":"Sejarah Penciptaan Alam Semesta"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/#website","url":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/","name":"SSRF Indonesian","description":"Menjembatani dunia dikenal dan tak dikenal","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false,"post-thumbnail":false},"uagb_author_info":{"display_name":"Swapnil","author_link":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/author\/swapnil\/"},"uagb_comment_info":1,"uagb_excerpt":"Daftar isi1. Pendahuluan2. Definisi Alam Semesta3. Sejarah\u00a0waktu &amp; umur penciptaan Alam Semesta4. Siklus-siklus utama penciptaan dan\u00a0peleburan\u00a0Alam Semesta4.1 Penghancuran atau peleburan (disolusi) Alam Semesta4.1.1 Pralay (setiap 4.32 miliar tahun)4.1.2 Mahapralay (setiap 432 miliar tahun)5. Perbedaan pandangan tentang umur penciptaan Alam Semesta antara ilmu pengetahuan spiritual\u00a0dan\u00a0sains modern6. Poin-poin tentang sejarah penciptaan Alam Semesta dan Umat Manusia 1.&hellip;","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/277"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=277"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/277\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16022,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/277\/revisions\/16022"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1277"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=277"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=277"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.spiritualresearchfoundation.org\/indonesian\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=277"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}