Efek dari sang penulis terhadap buku-buku tentang Spiritualitas

  •  

1. Kata pengantar efek dari sang penulis terhadap buku-buku tentang Spiritualitas

Dalam artikel tentang ‘Studi Spiritualitas' seperti yang kami telah tegaskan bahwa seseorang sebaiknya mempelajari buku-buku tentang Spiritualitas yang telah ditulis oleh para Suci (Saints) atau para Guru . Pada artikel ini kami menjelajahi subjek ini sedikit lebih mendalam. Sejumlah besar buku tentang Spiritualitas telah tersedia dan bagi murid yang serius dalam menekuni Spiritualitas, hal ini menimbulkan suatu permasalahan. Setiap penulis memberikan padangan nya masing-masing tentang Spiritualitas, beberapa di antaranya bahkan mungkin bertentangan satu dengan lainnya. Terdapat juga sebuah resiko bagi seorang murid yang tertarik oleh tulisan-tulisan yang mungkin hanya memiliki sedikit saja kebenaran spritual di dalamnya tetapi disajikan dengan sangat baik dan menarik (artikulatif). Oleh sebab itu, timbul pertanyaan-pertanyaan seperti:  bimbingan apakah yang harus diikuti dan dipraktikkan oleh seseorang? Berapakah nilai spiritual yang diperoleh untuk mengikuti topik buku Spiritualitas terlaris berikutnya di toko buku tanpa terlebih dahulu menilai siapa penulis nya? Pada artikel ini kami akan membahas manfaat-manfaat dan resiko-resiko tersebut di atas dalam membaca buku tentang Spiritualitas tergantung dari penulis buku tersebut dan apa yang benar-benar dicapai oleh pembaca dengan membaca buku-buku ini.

2. Efek spiritual tergantung pada sang Penulis nya

Pada saat kami melakukan penelitian spiritual ke dalam topik ini , kami membagi keseluruhan penulis dalam empat kategori dasar. Kategori-kategori tersebut adalah:

 

2.1 Manfaat dari buku dalam tingkatan energi spiritual dari buku tersebut

Tabel berikut ini merupakan bacaan dimensi spiritual oleh Yang Mulia Dr. Athavale sendiri.

Temuan-temuan awal berhubungan dengan jumlah energi spiritual yang efektif dalam buku tersebut serta kami mengukur hal ini berkaitan dengan:

  • energi spiritual dalam kata-kata yang tertulis itu sendiri,

  • dalam suara dari kata-kata tersebut dan

  • energi spiritual yang dihasilkan terhadap pengaruh dari tingkat pencapaian spiritual sang penulis terhadap  kata-kata dan suaranya.

Tabel ini memberikan pembacaan halus yang mencakup semua buku secara umum tergantung dari siapa penulisnya:

 

 

Catatan-catatan:

  1. Pada kolom di atas, kami telah menggabungkan dua kategori penulis karena mereka serupa dalam hal efek mereka terhadap manfaat spiritual dari buku, kedua kategori tersebut adalah:

    • Seorang penulis sebuah buku tentang hal-hal umum dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata
    • Seorang penulis sebuah buku spiritual dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata. 
  2. Energi dalam kata-kata (shabdashakti): Sesuai dengan aturan spiritual, 'sentuhan, rasa, bentuk, suara, aroma dan energi selalu berdampingan ', maka setiap kata disertai dengan energi spiritual tersendiri. Total energi dalam publikasi tersebut tergantung pada kata-kata yang digunakan.

  3. Energi dalam  suara (naadshakti): Sekali lagi, sesuai dengan aturan spiritual tersebut di atas, suara juga membawa energi spiritual tersendiri.

2.2 Proses pengetahuan yang diperoleh untuk menulis buku

Kemudian kami melangkah satu langkah lebih jauh. Kami mengambil satu buku secara acak dari seorang penulis di setiap kategorinya. Hal Ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana proses pengetahuan diperoleh dan bagaimana buku ini terlihat melalui penglihatan dalam dimensi spiritual. Namun, temuan-temuan tersebut tidak terbatas pada ke 3 penulis di setiap kategori dan masing-masing buku mereka dalam kelompok sampel tersebut, tetapi juga berbicara atas nama semua penulis dalam setiap kategori.

 

 Catatan-catatan:

  1. Catatan penting: Kami tidak mengambil bacaan dari dimensi spiritual dari sebuah buku untuk mewakili kategori ini, karena kategori tersebut mirip dengan kategori di kolom berikutnya yaitu 'Seorang penulis buku spiritual dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata’. Dalam sebagian besar kasus di mana rata-rata orang yang menulis sebuah buku spiritual, tingkat pencapaian spiritual nya di bawah seorang Suci (Saint), maka ia akan selalu dipengaruhi oleh beberapa entitas. Entitas tersebut bisa berupa entitas positif dengan tingkat spiritual rendah atau dia dipengaruhi atau dirasuki oleh hantu (setan, iblis, energi negatif, dll). Apapun entitas tersebut,  kemungkinan tercemar oleh energi negatif hitam adalah tinggi. Kadang-kadang hantu dapat memberikan informasi yang benar tetapi pengetahuan tersebut dibungkus dengan energi hitam. 

  2. Dalam hampir semua kasus di mana seorang Guru palsu menulis buku spiritual, ia akan selalu dipengaruhi atau dirasuki oleh hantu tingkat tinggi  (setan, iblis, energi negatif, dll) karena ia merupakan sarana penyalur  untuk menyesatkan para ‘pencari’ secara massal.

  3. Seorang Suci (Saint) dengan tingkat  pencapaian spiritual 70% akan mampu menyerap 30% dari Kebenaran Hakiki dalam tulisan-Nya. Begitu juga, seorang Saint pada tingkat spiritual 100% akan mampu menyerap 100% Kebenaran Hakiki. Inilah sebabnya mengapa kita melihat hal tersebut sesuai dengan kemungkinan maksimum dari  Kebenaran Hakiki yang mampu ditangkap dan disebarkan dalam bentuk kata. Pada akhirnya, Kebenaran Hakiki sepenuhya dapat dijabarkan jika seseorang telah melampaui kata-kata yang tertulis itu sendiri.

3. Metode penelitian/ riset

Priyanka Lotlikar

Tiga buah buku ditempatkan di depan ‘pencari’ SSRF, Priyanka Lotlikar. Dia tidak membaca buku-buku tersebut, tetapi dengan visi indra keenam nya yang mendalam, ia mengamati buku-buku tersebut beserta berbagai aspek dari buku tersebut dalam dimensi spiritual. Disebabkan oleh niatan suci Yang Mulia Dr Athavale, dia dapat mengakses informasi dari Pikiran dan Akal budi (Intelek) Semesta dalam bentuk diagram yaitu gambar-gambar dari dimensi spiritual serta dalam bentuk tertulisnya. Informasi ini kemudian diperiksa dan diverifikasi oleh Yang Mulia Dr Athavale. Saat mengambil pembacaan dari dimensi spiritual di setiap kategori, dia mengambil pembacaan dari dimensi spiritual sebagai berikut:  

a) pengaruh dari buku tersebut, yaitu sampul dan bagian dalam nya di tingkat tak kasat mata (dimensi spritual) dan

b) proses diterimanya pengetahuan oleh para penulis tersebut.

Dia juga melanjutkan dengan menjelaskan pengaruh buku tersebut pada tingkat tak kasat mata (dimensi spiritual) terhadap seseorang yang membacanya.

 

4 Efek dari membaca sebuah buku tentang Spiritualitas yang ditulis oleh seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata.    

4.1 Efek dari membaca sebuah buku tentang Spiritualitas yang ditulis oleh seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata.

Berikut ini adalah pembacaan dimeni spiritual oleh Priyanka tentang apa yang ia lihat di dimensi spiritual ketika ia melihat buku tersebut ditulis oleh seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata.

 

 

 

 

4.2 Proses yang terjadi saat memperoleh pengetahuan dan menulis buku tentang Spiritualitas oleh seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata.

Berikut ini merupakan alasan rata-rata mengapa kebanyakan orang mampu untuk mendapatkan pemikiran-pemikiran untuk menulis sebuah buku.

^ Atas

 Hal ini berarti bahwa pada saat seorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata mencoba untuk menulis sebuah buku tentang Spiritualitas, rata-rata dari 70% kasus yang ada, penulis tersebut juga akan dipengaruhi oleh energi-energi negatif atau beberapa energi halus (dimensi spiritual) tingkatan ringan yang baik.

 

 

Ketika seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata menulis sebuah buku tentang Spiritualitas, penulis itu sendiri akan hilang dalam  Ilusi Besar atau māyā, maya. Dia memiliki imajinasi yang aktif untuk membumbui buku dan alurnya, serta dll. Oleh karena itu hanya terdapat sangat sedikit sāttviktā, sattviktaa pada buku tersebut. Semua jenis tulisan ini didominasi oleh pengaruh dari pemikiran-pemikiran Maya atau Illusi Besar. Mereka berpikir semua pemikiran yang mereka miliki dalam menulis buku tersebut merupakan satu lompatan besar dari akal budi (intelek).

 

 

Karena penulis-penulis tersebut tidak memiliki dasar latihan spiritual yang kuat, maka sudut pandang mereka kebanyakan berkaitan dengan Maya, dan bukannya dengan dasar tujuan hidup spiritual, yaitu mencapai kesadaran Tuhan. Inilah sebabnya mengapa  Tuhan YME tidak membantu mereka dan mereka juga tidak dapat mengakses Pikiran dan Akal Budi (Intelek) Semesta. Karena penulis memiliki ego bahwa 'Saya yang menulis buku, pemikiran-pemikiran saya berasal dari akal budi', maka frekuensi energi hitam disebarkan melalui tulisan-tulisan mereka. Oleh karena ego dari penulis dan ketertarikannya akan Maya, hal itu menjadi sangat mudah bagi entitas negatif seperti māntrik, maantriks dalam dimensi spiritual untuk mendapatkan kendali atas mereka. Tulisan-tulisan tersebut adalah sedemikian rupa sehingga mereka tenggelam dalam konsep ilusi tentang Spiritualitas dan membawa pembaca ke jalan yang jauh dari pemahaman lahiriah bahwa mencapai kesadaran Tuhan adalah tujuan hidup sebenarnya dan terjebak dalam Illusi besar bukanlah tujuan hidup. Akibatnya, pada jenis buku ini, penekanan pada latihan spiritual untuk membuyarkan panca indera, pikiran dan intelek sangatlah kurang.

Akibat dari hal di atas, melalui tulisan mereka gelombang-gelombang māyāvi, mayaavi menyebar ke atmosfer (lingkungan sekitar). Selain dari frekuensi raja-tama, frekuensi-frekuensi maayaavi atau ilusi juga disebarkan dari buku-buku ini dan hal ini yang membuat kebanyakan orang tertarik kepada buku tersebut dan suka membacanya, di mana hanya akan membawa kerugian spiritual bagi mereka.

5 Efek dari membaca sebuah buku tentang Spiritualitas yang ditulus oleh seorang pembimbing spiritual palsu.

5.1 Persepsi dari bacaan dimensi spiritual pada buku tentang Spiritualitas yang ditulis oleh seorang pembimbing spiritual palsu.

Berikut ini adalah apa yang dilihat oleh Priyanka di dimensi spiritual ketika dia melakukan bacaan dari dimensi spiritual dari buku yang ditulis oleh seorang pembimbing spiritual palsu.

 

 

 

 

^ Atas

5.2 Proses yang terjadi saat memperoleh pengetahuan dan menulis buku tentang Spiritualitas oleh seorang pembimbing spiritual palsu.

Tingkat pencapaian spiritual dari pembimbing spiritual palsu berada sekitar tingkatan pencapaian 50%. Oleh karena itu mereka memiliki pengetahuan yang sangat terbatas dan pengalaman secara langsung tentang Spiritualitas sebenarnya yang sangat terbatas juga. Karena beberapa latihan spiritual di kelahiran masa lalunya atau kelahiran sekarang, mereka mungkin telah mencapai tingkat spiritual tertentu. Namun mereka juga memiliki keinginan yang kuat untuk meraih ketenaran dan kekayaan. Hal Ini dikapitalisasi/ dimanfaatkan oleh hantu tingkat tinggi yang merasuki mereka. Hantu tingkat tinggi tersebut memberikan pembimbing spiritual palsu tersebut dengan kekuatan supranatural dan bakat mereka. Akan lebih mudah bagi hantu tingkat tinggi untuk mendapatkan pekerjaan spiritual negatif dilakukan melalui seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual yang lebih tinggi tetapi juga yang memiliki ego . Hal ini pada gilirannya  dapat membujuk kebanyakan orang dan memberikan pembimbiing spiritual palsu tersebut pengikut yang besar.  Seseorang dengan tingkat pencapaian spritual rata-rata tidak akan mampu melihat perbedaan antara pembimbing-pembimbing spiritual yang asli dengan yang palsu .

Kedua faktor ini mengakibatkan mereka memiliki ego tinggi seperti seseorang dengan tingkat pencapaian spiritual rata-rata. Oleh karena ego dan siddhi mereka serta pengikut mereka yang banyak, menjadi mudah dan kondusif bagi penyihir (makhluk halus) (maantriks) tersebut untuk memiliki kendali atas mereka dan bertindak melalui mereka. Kenyataanya, hanyalah maantrik tersebut  yang melakukan setiap tindakan melalui mereka dan pembimbing palsu juga merupakan boneka di tangan maantrik tersebut.

 

 

Awan hitam ini merupakan campur tangan maantriks dalam pemikiran yang datang dari Tuhan pada tingkatan prinsip tak berwujud (unmanifest) itu sendiri. Karena ego yang tinggi dari pemandu spiritual palsu tersebut, maka mereka tidak mendapatkan bantuan apapun dari Tuhan. Sebagaimana sumber dari pengetahuan berasal dari penyihir-penyihir (makhluk halus), maka pengetahuan tersebut dilapisi oleh energi hitam halus. Jadi bahkan sebelum seorang Pembimbing Spiritual palsu atau ‘Saint’ palsu tersebut mulai menulis hal apa pun, energi hitam telah tersebar di sekelilingnya yang disebabkan oleh sumber pengetahuan nya dan penyihir-penyihir/ makhluk halus (maantriks) merasuki mereka. Pada saat seseorang membaca buku yang ditulis oleh seorang pembimbing spiritual palsu ia juga dipengaruhi oleh energi hitam ini. Sayangnya, kebanyakan  orang tidak memiliki kemampuan dalam merasakan dimensi spiritual (halus)  untuk mengerti bahwa sebenarnya  ia sedang dipengaruhi oleh energi hitam ini. Kebanyakan pembaca akan murni membaca pada tingkatan psikologis dan oleh karena itu tertarik dengan penulisan yang indah dan terkadang akhirnya menjadi setia terhadap ajaran dalam buku tersebut dan buku-buku lebih lanjut yang ditulis oleh pembimbing spiritual palsu tersebut.

Kenyataanya, pada saat 5 ‘pencari’ diminta untuk mengunjungi situs dari penulis ini dan melakukan pembacaan dimensi spiritual, para pencari spiritual tersebut mendapatkan pengalaman akan rasa  mual, sakit kepala, tidak merasa seperti melihat gambar dari penulis tersebut.  Dan juga, warna hitam digunakan secara bebas dalam situs dan alur produknya. Sedangkan hitam sebenarnya merupakan warna yang sangat tāmasik, tamasik dan merupakan warna pilihan dari para hantu untuk menyebarkan energi hitam.

6 Efek dari membaca sebuah buku tentang Spiritualitas yang ditulis oleh seorang Suci (Saint)

6.1 Persepsi dari bacaan dimensi spiritual pada buku tentang Spiritualitas yang ditulis oleh seorang Suci.

 

 

Para Suci (Saints) memiliki kemampuan untuk mengakses pengetahuan ilahi dari Pikiran dan Akal Budi Semesta berdasarkan latihan spiritual mereka (sādhana, saadhanaa) itu sendiri. Mereka menyampaikan pengetahuan ini untuk orang banyak melalui buku-buku. Para Suci tidak memiliki perspektif duniawi di balik penulisan sebuah buku dari pengetahuan yang telah mereka peroleh seperti memperoleh ketenaran atau mendapatkan uang. Mereka juga tidak memiliki sikap pelaku (doership) bahwa buku Mereka akan mengubah dunia. Mereka melakukan hal itu sebagai latihan spiritual Mereka sesuai keinginan Tuhan dan karena cinta kasih spiritual mereka untuk umat manusia. Hal ini dimaksudkan agar orang yang ingin maju secara spiritual memiliki peta jalan untuk latihan spiritual sehingga mereka dapat mencapai tujuan akhir yaitu kesadaran Tuhan. Para Suci menulis buku berdasarkan dasar tujuan hidup spiritual yaitu untuk seseorang menyelesaikan takdirnya dan mencapai kesadaran Tuhan. Hal ini merupakan satu-satunya tujuan mereka dalam menulis buku. Semua hasil dari buku yang dijual digunakan untuk membantu orang untuk tumbuh secara spiritual. Sehingga secara totalitas mereka telah sejalan dengan tujuan dari Tuhan YME. Buku-buku mereka tidak pernah berisi tentang bagaimana untuk dapat berhasil dalam Ilusi Besar (Maayaa), melainkan bagaimana mengatasi kemelekatan seseorang pada Ilusi tersebut.

Sebagai hasilnya, buku-buku oleh Para Suci hanya populer di antara para ‘pencari’ Tuhan. Mereka tidak pernah menjadi yang terlaris.

 

^ Atas

6.2 Proses yang terjadi saat memperoleh pengetahuan dan menulis buku tentang Spiritualitas oleh seorang Suci (Saint).

 

 

Ketika buku ditulis oleh para Suci (Saints), segala sesuatu yang ditulis dalam buku tersebut merupakan pengalaman spiritual Mereka secara langsung. Karena mereka menulis dari pengalaman pribadi, yaitu mereka sudah mencapai keadaan spiritual yang telah maju dengan merasakan Kebahagiaan Hakiki (Bliss) atau Kedamaian Hakiki (Serenity)- itu sebabnya terdapat banyak Kesadaran Ilahi (Chaitanya) yang tak berwujud (unmanifest) di dalamnya. Jadi ketika mereka menggunakan suatu istilah spiritual, hal itu bukanlah sekedar hal intelektual semata, tetapi merupakan sesuatu yang telah mereka alami. Sekarang, dari sebuah buku seperti disebutkan di atas, Kesadaran Ilahi disebarkan dan juga terdapat Niatan Suci (Sankalpa) sehingga seseorang merasakan kedamaian hakiki (Serenity) pada saat membaca buku tersebut. Seorang Suci sejati tidak membutuhkan medium seperti suatu entitas halus dalam mendapatkan informasi.

Pembaca mendapatkan manfaat-manfaat pada tingkatan spiritual melalui pengetahuan dari sudut pandang untuk mencapai dasar tujuan spiritual dalam hidupnya. Penyembuhan dengan spiritual juga terjadi ketika membaca buku yang ditulis atau disusun oleh para Suci.

7. Dalam Rangkuman

  • Buku-buku tentang Spiritualitas selalu menjadi target oleh energi negatif ketika buku tersebut sedang ditulis. Pemikiran penulis tersebut juga selalu dipengaruhi oleh energi halus. Jika penulis tidak memiliki sutu dasar yang kuat akan latihan spiritual,  maka ia tidak dapat menangkis energi negatif yang mempengaruhi proses berpikirnya. Kenyataannya, ia bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang dipengaruhi.

  • Penulis dengan tingkat spiritual yang rendah yang disebabkan oleh ego dan keinginan untuk menjadi tenar, bertindak sebagai mercusuar bagi para hantu (setan, iblis, energi negatif dll) untuk bertindak melalui mereka.

  • Tuhan YME tidak membantu penulis yang tidak melakukan latihan spiritual dari sudut pandang untuk mencapai kesadaran Tuhan. Demikian juga makhluk-makhluk halus yang telah maju secara spiritual tidak memberikan bantuan karena mereka dipandu oleh keinginan Tuhan. Jadi apa yang tersisa adalah energi negatif dari dimensi spiritual yang berpesta pora dengan penulis pada tingkat spiritual yang rendah.

  • Sayang sekali, pembacalah yang menanggung beban tersebut. Buku yang ditulis oleh orang-orang dengan tingkat pencapaian spiritual yang rendah dan oleh pembimbing spiritual/ para Suci palsu, pada dasarnya mengarahkan para pembaca tersebut dalam menjadi lebih terperangkap di dalam kemelakatan duniawi dan Maya. Seiring dengan hal ini, mereka juga memancarkan energi hitam yang menyebabkan permasalahan-permasalahan jangka panjang bagi pembaca tersebut.

  • Hanya buku-buku yang ditulis oleh para Suci dan para Guru yang bermanfaat bagi pertumbuhan spiritual kita. Buku-buku ini adalah satu-satunya buku yang dapat bertahan dalam ujian waktu selama ribuan tahun. Silakan lihat artikel tentang 'Siapakah seorang Suci itu' dan 'Siapakah seorang Guru itu' .

<< Kembali